Seven Samurai
Salah satu hal yang saya kagumi dari Akira Kurosawa adalah premis filmnya yang sangat simpel. Namun, justru di situlah letak kejeniusannya. Ambil contoh Ikiru (1952): kisahnya hanya tentang seorang pegawai negeri sipil paruh baya yang hidupnya membosankan, lalu tiba-tiba divonis kanker. Premisnya sesederhana itu: bagaimana ia menghabiskan sisa waktunya untuk menemukan arti hidup.
Jujur saja, awalnya saya mengira film-film sang legenda ini hanya soal samurai biasa yang mungkin bakal bikin mengantuk. Tapi ternyata, Kurosawa punya cara unik untuk mengeksekusi kesederhanaan itu menjadi sesuatu yang sangat membekas
Seven Samurai (1954) itu bukan cuma film samurai biasa, Ini adalah "mbah"-nya film aksi modern. Kalau kamu nonton Avengers, Justice League, atau film apa pun yang temanya "ngumpulin tim jagoan buat misi mustahil", mereka semua berhutang budi sama film ini.
Simpel banget premisnya: Sebuah desa petani yang miskin mau dirampok bandit, terus mereka menyewa 7 samurai (yang cuma dibayar pakai nasi) buat jagain mereka. Selesai. Tapi eksekusinya? Gila.
Kurosawa nggak bikin mereka jadi pahlawan tak terkalahkan. Mereka itu manusiawi banget. Ada yang sudah tua dan lelah (Kambei), ada yang masih bocah ingusan, dan tentu saja ada Kikuchiyo (Toshiro Mifune) yang petakilan, kasar, tapi punya hati paling besar. Hubungan antar karakter ini yang bikin filmnya hidup.
Toshiro Mifune di sini aktingnya chaos banget. Dia sebenarnya bukan samurai asli, tapi dia yang paling paham penderitaan petani karena dia juga dari kalangan bawah. Dia jadi jembatan antara samurai yang sombong dan petani yang penakut.
Meski hitam putih, adegan perang di tengah hujan lumpur itu lebih kerasa intensitasnya daripada film CGI zaman sekarang. Kamu bisa ngerasain capeknya, kotornya, dan putus asanya mereka. Kurosawa pakai teknik multi-camera di sini, yang bikin penonton merasa ada di tengah tawuran itu.