The Ascent
*Banyak orang mendewakan Come and See (1985) karya Elem Klimov sebagai puncak film anti-perang. Namun, The Ascent (1977) karya Larisa Shepitko berada di level yang jauh lebih gila secara esensi. Kontras terbesar dari kedua mahakarya ini sebenarnya sudah langsung terpancar dari makna judulnya masing-masing.
*Come and See berfokus pada dampak material dan kehancuran sistemik di bumi, sedangkan The Ascent adalah tentang perjalanan vertikal jiwa manusia antara transendensi moral atau kejatuhan eksistensial.
*Come and See: Horor Realitas & Kritik Sistemik
Judul Come and See itu diambil dari Kitab Wahyu (Apokalips), yang intinya sebuah undangan buat menyaksikan kehancuran dunia.
Makna Judul: Judul ini adalah perintah kasar buat penonton untuk datang dan melihat langsung realitas telanjang dari kekejaman perang. Fokusnya horizontal—kita dipaksa melihat ke bawah, ke tanah, ke lumpur, dan ke genosida yang terjadi di depan mata.
Dampak & Dasar Sistem: Film ini memperlihatkan bagaimana perang bekerja kayak mesin pembunuh massal. Di sini kelihatan banget bagaimana fasisme dan keserakahan sistem kapitalis/imperialistik memperlakukan manusia dan alam cuma sebagai komoditas yang legal dihancurkan demi perluasan kekuasaan.
2. The Ascent: Transendensi Spiritual vs Kejatuhan Moral
Kebalikannya, judul The Ascent (Pendakian) enggak menyuruh kita melihat keluar, melainkan melihat ke dalam jiwa dan ke atas. Ini adalah perjalanan vertikal yang kontras banget.
Pendakian Spiritual (Menuju Surga): Ini dialami sama Sotnikov. Secara fisik, dia mendaki bukit menuju tiang gantungan dengan tubuh yang sakit sakitan habis disiksa. Tapi secara moral, dia malah mengalami transendensi. Semakin dekat dia dengan kematian, jiwanya justru makin mendaki tinggi ke titik kesucian moral paling puncak karena dia mutlak menolak tunduk sama musuh.
"Kejatuhan" Moral (Menuju Neraka Dunia): Kontras total dari Sotnikov adalah Rybak. Secara fisik, Rybak emang ikut naik ke bukit dan ujung-ujungnya selamat dari eksekusi. Tapi demi bertahan hidup, dia milih berkompromi dan berkhianat. Selamatnya Rybak secara fisik justru jadi momen di mana jiwanya jatuh ke titik paling rendah. Dia bebas di dunia nyata, tapi terjebak selamanya di neraka penyesalan.
3. Medan Perang di Dalam Jiwa
Lewat kontras kedua judul ini, The Ascent membuktikan kalau dirinya jauh lebih mendalam secara psikologis sebagai film anti-perang. Larisa Shepitko enggak butuh ledakan besar buat menggambarkan kengerian perang. Dia cuma perlu membenturkan dua partisan ini ke satu pertanyaan eksistensial yang brutal: Lu milih mati demi mempertahankan harga diri moral, atau milih mengkhianati teman demi bisa tetap hidup?
Sinematografi hitam-putih dari Vladimir Chukhnov bikin vibes film ini makin gila.
Lanskap salju Belarusia yang putih membeku itu bukan cuma sekadar latar tempat, tapi metafora dari isolasi dan ujian moral yang absolut. Ditambah lagi, sorot mata Sotnikov di film ini ditangkap dengan sangat intens sampai kelihatan sakral kayak ikon-ikon figur religius.
Kesimpulan Akhirnya:
Kalau Come and See memaksa kita buat datang dan melihat neraka bumi akibat sistem buatan manusia, The Ascent justru berbicara tentang perjalanan spiritual manusia di tengah perang—apakah jiwanya bakal mendaki menuju transendensi, atau malah jatuh ke kehinaan abadi. Itu alasan kenapa The Ascent pantas disebut sebagai film anti-perang terbaik yang sesungguhnya.*