Aftersun
Perasaan saya serasa dicampur adukkan oleh Charlotte Wells setelah nonton film debut penyutradaraan panjangnya ini, nontonnya ngalir begitu aja sampai nggak kerasa durasi 102 menit ini menutup kisah kilas balik semua kenangan yang ada di benak Sophie dewasa yang pada saat itu liburan bersama sang Ayah, Calum di resort sederhana yang berlokasi di Turki yang dimana pada saat itu Sophie masih berusia 11 tahun.
Perasaan saya udah ngerasa nggak enak pada saat adegan Calum bilang "Aku-pun nggak nyangka bakal sampe umur 30" (kurang lebih seperti itu), yang sedari awal saya nikmatin aja film ini jadi "wah nanti ini bakal kenapa?".
Charlotte memang tidak memberitahu kita secara gamblang tentang apa yang terjadi, ia memberikannya secara ambigu kepada penonton lewat kisah Ayah dan Anak ini, nikmati, dan renungi, "Momen apa saja yang kita lewatkan bersama orang yang kita sayangi?".
Mungkin ada spoiler-lah dari Charlotte pada scene Sophie dewasa dalam kilatan cahaya (saya nggk tau apa namanya), disitu juga terlihat bahwa sang Ayah berdansa dengan outfit yang masih sama persis pada saat perpisahan di bandara, dan Ayahnya pula tidak tampak menua, itu sebagian dari metafora yang Charlotte berikan pada penonton, dan tentu kita sudah menyimpulkan tentang apa yang terjadi pada Calum.
Pace yang slow dan cerita yang down to earth banget serta cuman mengcapture momen liburan doang mungkin membuat sebagian orang akan dilanda rasa bosan dan kantuk, tetapi balik lagi pada diri kita sendiri, kalau sinema itu sangat luas cakupannya dan bisa mengekspresikan imajinasi seseorang bahkan saat membayangkan hal yang tidak masuk akal sekalipun. Balik lagi pada point diatas, justru film yang penceritaannya seperti inilah yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Berbagai metafora kehidupan disajikan apik melewati duo Sophie dan Calum ini, dari Sophie yang menikmati hidup ini dengan bahagia dan melihat aktivitas yang orang dewasa lakukan, hura-hura, party, bermesraan, diving dll. Tetapi saat Calum tidak bersama Sophie, ia cenderung menunjukkan gejala-gejala yang menandakan kalau dia sedang dalam keadaan depresi berat, diantaranya berenang sendirian di tepi pantai tengah malam, menangis, meludahi refleksi dirinya di cermin, dan banyak ekspresi yang ia pendam.
Liburan ini menjadi momen yang indah sekaligus menyedihkan bahkan traumatik, seiring Sophie bertambah usia ia paham bagaimana menjalani hidup sebagai orang dewasa, penuh lika-liku dan banyak perasaan yang terpendam. Yang menjadi bumbu pemanis disini pula adalah karakter Sophie yang selalu diyakinkan bahwa "everything's okay", disisi lain ia tidak tahu menahu tentang apa yang sedang terjadi.
Bahkan lagu under pressure dari Queen & David Bowie ini tidak akan terdengar dan terasa sama lagi, yang teringat adalah Calum dan Calum. Film ini pula digarap secara santai dengan musik yang minim dan scoring yang mengalun lembut sekaligus heartbreaking seiring berjalannya film.
Untuk teknik pengambilan gambar, saya suka bagaimana Charlotte ini mengambil sudut pandang dari benda refleksi seperti TV dan cermin, seolah-olah benda itu juga turut menyaksikan perjalanan melodrama ayah dan anak ini, tetapi Sophie yang hanya mengingatnya. Semuanya disajikan begitu artistik, ada pula yang membuatnya menarik pada saat kamera meng-shoot buku-buku self-healing yang terpajang di samping TV dan ada sedikit pantulan waja Calum, seperti buku-buku tersebut-lah yang menjadi bahan curhatannya.
Saya sedih banget pas adegan di ending, yang...
"Bye bye"
"I love you"
Diiringi oleh Calum yang keluar dari bandara lewat pintu aneh yang menuju ke sebuah ruangan gelap dengan kilatan cahaya.
Ini mbak Charlotte kenapa yahh bikin saya nyesek, kita disuruh nonton liburan biasa di Turki yang dimana dia tidak menjual sebagaimana keindahan Turki, melainkan hanya terfokus pada perjalanan duo ayah anak ini mengukir kenangan.
Everything is Okay :)
#charlotte wells#mental health#frankie corio#grief#melodrama#sad#coming of age#holiday#paul mescal