Emma'
Disutradarai oleh Riri Riza dan diproduseri oleh Miles Films, Athirah ini bukan sekadar film biografi biasa, tapi sebuah potret yang lembut tapi tajam tentang kekuatan perempuan di tengah budaya patriarki Bugis pada tahun 1960-an. Dari awal, film ini sudah memancarkan aura yang sangat khas: pencahayaan alami, warna-warna hangat khas Sulawesi Selatan, dan ritme lambat yang memaksa para penonton untuk ikut tenggelam dalam keseharian tokohnya. Ceritanya cukup sederhana: Athirah, seorang istri dan ibu dari keluarga terpandang, mendapati suaminya, Haji Kalla, menikah lagi. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan pertanyaan besar tentang kesetiaan, harga diri, dan peran perempuan itu sendiri di tengah tradisi yang saat itu lebih berpihak pada laki-laki.
Sosok Athirah sendiri adalah karakter yang ada di dunia nyata. Ia adalah Hj. Athirah Kalla, ibu dari Muhammad Jusuf Kalla, yang kelak menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Di kehidupan nyata, Athirah dikenal sebagai perempuan Bugis yang kuat, religius, dan berwibawa, namun sangat rendah hati. Ia lahir di Bone, Sulawesi Selatan, dan hidup di masa ketika norma sosial masih sangat menuntut kepatuhan perempuan terhadap suaminya. Namun, yang membuat Athirah istimewa adalah caranya menghadapi kepedihan tanpa kebencian. Ketika suaminya menikah lagi, Athirah tidak pergi meninggalkan rumah, tidak meledak dalam amarah, dan tidak juga pasrah begitu saja. Ia memilih untuk bertahan dengan cara yang berkelas: tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai ibu, mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih, dan menjaga nama baik keluarganya. Dari sanalah, karakter dan nilai-nilai yang membentuk Jusuf Kalla — seperti disiplin, empati, dan kesederhanaan — berasal. Athirah adalah simbol perempuan Bugis sejati: tegas, tangguh, tapi lembut dalam cara yang tak perlu ditunjukkan.
Kembali ke filmnya, Riri Riza berhasil menangkap sisi kemanusiaan Athirah dengan sangat indah. Cut Mini pun sangat luar biasa dalam memerankan tokoh ini — tidak ada dramatisasi berlebihan, tapi setiap tatapan matanya memuat ratusan, bahkan ribuan perasaan: kecewa, sabar, marah, dan akhirnya menerima semuanya. Aktingnya adalah contoh yang sempurna bahwa keheningan bisa jauh lebih kuat dibanding dialog panjang. Film ini juga memanfaatkan elemen lokal dengan detail yang cukup menakjubkan: bahasa Makassar dan Bugis yang digunakan secara natural, busana tradisional diperhatikan dengan cermat, dan musik latarnya yang lembut menciptakan nuansa nostalgia tanpa terasa berlebihan. Kamera Yadi Sugandi pun bergerak dengan perlahan, seolah ikut menghormati ruang-ruang privat dalam kehidupan Athirah yang rapuh tapi bermartabat.
Pada akhirnya, Athirah bukan hanya sekadar kisah tentang poligami atau kesetiaan, melainkan tentang martabat manusia dalam menghadapi nasib. Sosok Athirah — baik dalam sejarah maupun dalam film — menjadi lambang kekuatan yang tidak berisik tapi mengakar hingga ke dalam hati. Ia membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, termasuk Jusuf Kalla, yang kemudian tumbuh menjadi tokoh nasional dengan nilai-nilai kesederhanaan dan empati yang jelas diwariskan darinya. Melalui film ini, Riri Riza mengajak penonton untuk menghargai perempuan-perempuan seperti Athirah: mereka yang tidak tercatat dalam sejarah besar, tapi justru menjaga agar sejarah itu tetap bisa berdiri.
#ʟᴀᴛᴇ ɴɪɢʜᴛs ᴄɪɴᴇᴍᴀ 🌙💫#𝟷𝟶 ᴘᴍ - 𝟺 ᴀᴍ