Himizu
A Sion Sono movie... Without a sex scene??
Film ini adalah cerita tentang seorang anak yang hidupnya diperas sampai kering, bukan secara metaforis doang, tapi literally dan emotionally. Dunia di sekelilingnya keras, dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya, dan sama sekali tidak ramah pada orang yang cuma pengen hidup “normal”. Yang bikin nyesek, cerita ini nggak pernah memposisikan penderitaan Sumida sebagai sesuatu yang heroik. Semua rasa sakitnya ditaruh mentah-mentah di depan kita, tanpa filter, tanpa penghiburan palsu. Kamu dipaksa ngeliat bagaimana kekerasan—baik secara fisik maupun mental—pelan-pelan menggerogoti seseorang sampai dia sendiri bingung, masih pantas kah dia untuk terus menjalani hidup. Dan pertanyaan itu bukan datang dari drama besar, tapi dari kejadian-kejadian kecil yang pelam-pelan menumpuk, yang terlalu realistis buat diabaikan.
Yang bikin ceritanya terasa luar biasa jujur adalah cara kisah ini membicarakan soal harapan. Harapan di sini bukanlah sesuatu yang indah atau inspirational quote material. Harapan disini justru terasa rapuh, almost embarrassing, seperti sesuatu yang pengen kamu percaya tapi malu buat mengakui nya. Ada satu sosok yang jadi semacam jangkar emosional—aneh, obsesif, kadang overwhelming—tapi justru dari situlah cerita ini dapet denyut hidupnya. Relasi mereka nggak sehat, nggak ideal, tapi terasa nyata. Dan dari situ kamu sadar: sometimes manusia bertahan hidup bukan karena punya alasan atau ingin menggapai sesuatu, tapi karena ada satu orang yang cukup keras kepala untuk berpikir, “hidup itu tetap harus dijalani,” meskipun dunia berkali-kali mengatakan sebaliknya.
Sion Sono, dengan cara bercerita khasnya, bisa membuat kisah ini terasa sangat manusiawi, dan berhasil menyampaikan tragedi tanpa romantisasi. Dia nggak menggurui, nggak memaksa kamu untuk bersimpati. Dia cuma menyodorkan sebuah kenyataan dan membiarkan kamu tenggelam di dalamnya. Cerita ini terasa seperti teriakan panjang yang capek, marah, putus asa, tapi anehnya jujur banget. Dan kejujuran itulah yang bikin semuanya terasa sangat beautiful, even when it's painful. Ini bukan cerita tentang menang atau kalah, tapi tentang bertahan meski nggak yakin buat apa.
Personally, i love this movie because it felt... real. Sometimes, it hurts to keep going, to keep living, especially di titik-titik terendah kita. Sometimes, it feels pointless to even try, like the world has already made its decision about you before you ever had the chance to speak. And this story doesn’t deny that feeling—it sits with it, quietly, uncomfortably, letting it breathe. There are moments where living feels less like a choice and more like an obligation that you never agreed to, and the story understands that feeling deeply. It doesn’t rush to fix it, doesn’t offer easy answers, and that’s exactly why it resonates. It lets the pain exist, sit there, breathe, until you recognize parts of yourself in it.
And in that recognition, there’s something strangely comforting about it. Not happiness, not hope in the usual sense, but a soft understanding that you’re not alone in feeling this way. That even when life feels unbearably heavy, the act of continuing life is still meaningful, doesn't matter how messy & unfair life can be. The story doesn’t promise things will get better. It simply states that staying alive, despite everything, is already an act of quiet defiance. And somehow, that honesty made me love it even more.
4/59 Sion Sono's Filmography