The Wind Rises
WATCHING EVERY 25 GHIBLI FILMS
𝟐𝟎. 𝐓𝐡𝐞 𝐖𝐢𝐧𝐝 𝐑𝐢𝐬𝐞𝐬
The Wind Rises adalah surat cinta yang pahit. Bukan hanya buat dunia penerbangan, atau buat Jiro Horikoshi yang jadi pusat kisah ini, tapi juga buat mimpi-mimpi yang tidak pernah bisa benar-benar lepas landas tanpa meninggalkan luka di tanah. Hayao Miyazaki, di masa menjelang pensiunnya (yang ternyata nggak pensiun beneran, karena beliau balik lagi setelahnya), membuat film ini seperti seseorang yang ingin bicara terakhir kali—bukan dengan teriakan, tapi dengan suara pelan, getir, penuh kerinduan. Ini bukan kisah anak-anak. Ini juga bukan kisah pahlawan. Ini adalah refleksi tentang apa artinya bermimpi di dunia yang nggak pernah damai, tentang menciptakan keindahan dalam bayang-bayang kehancuran. Jiro bukan tokoh yang gampang dikagumi. Dia jenius, tapi juga terikat pada sistem. Dia menciptakan pesawat yang indah bukan karena ingin perang, tapi karena dia ingin membuat sesuatu yang “murni”. Tapi justru ciptaannya digunakan sebagai mesin pembunuh. Ini tragis—tapi bukan tragedi yang meledak-ledak, melainkan semacam kesedihan dalam, yang terus menghantui sampai akhir. Miyazaki membuat kita jatuh cinta pada langit, pada mesin, pada suara angin, pada segala detail kecil yang membentuk dunia Jiro. Tapi di balik itu, ada rasa bersalah yang nggak pernah benar-benar selesai. Seolah keindahan selalu punya harga. Dan film ini nggak pernah kasih jawaban pasti apakah harga itu layak dibayar.
Lalu ada Nahoko. Sosok lembut, rapuh, dan tulus, yang masuk ke hidup Jiro seperti angin musim semi yang sebentar tapi membekas selamanya. Hubungan mereka jauh dari drama, tapi terasa sangat nyata. Mereka nggak punya banyak waktu—Nahoko sakit, dan dunia sedang berubah terlalu cepat. Tapi mereka mencintai satu sama lain dengan cara yang sangat diam, sangat tenang, dan karena itu sangat menyentuh. Adegan-adegan mereka bersama seperti lukisan air yang perlahan larut, tapi justru karena itu terasa sangat hidup. Ketika akhirnya Nahoko menghilang, Jiro tidak menangis. Tapi kita sebagai penonton, bisa merasakan kehampaan itu menelan segalanya.
Visual film ini adalah salah satu yang terbaik dari Ghibli. Warna-warna pastel yang lembut, awan yang bergerak seperti mimpi, mesin-mesin yang bernafas seolah mereka punya jiwa. Musik dari Joe Hisaishi menyatu dengan adegan-adegan seperti angin menyentuh dedaunan—nggak pernah terlalu keras, tapi selalu tepat. Dan di atas semuanya, ada tema besar: “Le vent se lève, il faut tenter de vivre.” Yang berarti "Angin bertiup, kita harus mencoba hidup". Sebuah kalimat sederhana yang terdengar seperti perintah sekaligus doa. Bahwa meskipun dunia ini hancur, meskipun cinta tidak bisa bertahan, meskipun mimpi berakhir dalam tragedi, kita tetap harus hidup. Harus terus mencipta. Harus terus berharap.
The Wind Rises bukan film yang memanjakan, bukan film yang menawarkan pelarian. Ini film yang menatap mata kita dan bertanya, “apa yang akan kamu lakukan jika dunia memberi kamu mimpi, tapi memaksamu membayarnya dengan kehilangan?” Dan jujur saja, nggak ada jawaban yang mudah. Tapi mungkin, seperti Jiro, kita cuma bisa menatap ke langit, mendengar angin, dan terus berjalan. Pelan-pelan. Dalam diam. Dan tidak pernah berhenti.