Zootopia
Reminiscing the good ol' day in 2016, the early wave of games like Overwatch & Fortnite, enjoying one of THE GREATEST NBA Finals to have ever existed, the starts of the Golden State Warriors Dynasty, and Frank Ocean just dropped his new album "Blonde" before he just dissapear, gone with no new album released to this day.
Anyway, salah satu highlight besar di tahun 2016 adalah film ini — a true peak Disney moment. Pada masa ketika bioskop masih dipenuhi oleh penonton dari berbagai kalangan usia, Zootopia hadir sebagai tontonan animasi yang bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga langsung menjadi pembicaraan luas. Banyak orang mengingat bagaimana karakter Judy Hopps dan Nick Wilde terasa begitu dekat sejak awal, sementara adegan-adegan seperti sloth DMV quickly became iconic di berbagai percakapan sehari-hari pada saat film ini sudah dirilis. Film ini muncul di tengah era di mana animasi Disney terasa seperti Disney kembali menemukan identitasnya di era modern: cerah, optimistis, tetapi juga cukup cerdas untuk berbicara kepada penonton yang lebih dewasa tanpa kehilangan daya tarik keluarga.
Namun di balik rasa nostalgia tersebut, kekuatan utama Zootopia tetap terletak pada kualitas kontennya itu sendiri. Secara naratif, film ini membangun sebuah buddy-cop story yang solid dengan perkembangan karakter yang terasa natural. Judy bukan sekadar tokoh idealis; ia menghadapi konsekuensi dari sudut pandangnya sendiri, sementara Nick Wilde membawa lapisan emosi yang lebih kompleks daripada sekadar comic relief. World-building kota Zootopia ditampilkan dengan detail yang sangat kaya — berbagai distrik dengan ekosistem berbeda, visual humor yang tersembunyi di latar belakang, serta dinamika sosial yang membuat kota tersebut terasa hidup. Di saat yang sama, film ini mengangkat tema prasangka, bias, dan dinamika sosial secara halus namun efektif, tanpa kehilangan keseimbangan antara pesan yang serius dan pendekatan yang tetap engaging bagi semua kalangan.