

yang bisa aku katakan selama nonton adalah: tenangin dirilu semua anjir

baru sampai di eps 6, Allahuakbar sebagai orang yang hatinya mudah terbakar alias emosian dan mulutnya kadang (kl ga males) langsung nyeplos kalau ada orang yg semena-mena atau seenaknya sendiri—ngeliat irang rasanya mau gw cekek karena people pleaser banget dah ampun duh gusti 😩 (aku pilih contains spoiler karena aku malu review seperti ini) liat aja yee ini aku lanjutin kl karakternya gitu trs sampe eps 10 AKU DNF SUMPAH update setelah nonton eps 7: aku lupa kalau manusia itu makhluk yang kompleks, setelah percakapan mereka aku jadi sadar dan gaakan emosi lagi ok :<

wait i'm sobbing setelah mencerna film ini beberapa menit dulu krn aku awalnya mikir kayak "just like that????" dan aku gatau ini nyambung apa ngga sama film ini if i say this, tapi: when they showed us what could've possibly happen if fujino didn't meet kyomoto before she went to art school, now that i think about it, aku nangis karena omg that is such a human thing to do when their loved one dies, didn't mean to yap about myself tp ketika orang tersayang aku juga meninggal i also had this thought "kenapa" "harusnya..." but then i realized that there's nothing i can do, all i had is just possibility
PEAK😭😭😭😭😭😭😭😭terima kasih cici sudah mau nonton bareng aku waktu itu😭😭😭😭kangen cici😭😭😭😭gpp akan aku selesaikan jjba sendiri setelah ini😭😭😭😭