Fiction.
Baru saja saya selesai menonton ulang salah satu film Indonesia favorit saya, fiksi. karya sutradara Mouly Surya. Mengingat ini adalah film debutnya, sangat luar biasa membayangkan betapa terpukaunya penonton jika menyaksikan film ini langsung di bioskop pada tahun perilisannya. Apalagi saat itu, industri perfilman kita sedang didominasi oleh tren film horor supranatural yang cenderung mengeksploitasi adegan dewasa.
Film ini memiliki atmosfer yang sangat kuat dan menghantui. Mungkin karena saya terlalu banyak melihat referensi kasus-kasus di tahun tersebut, pengalaman menontonnya terasa sangat mengganggu secara psikologis (disturbing), namun dieksekusi dengan sangat rapi. apalagi endingya like WHATTT.
Dan kita tahu betapa terisolasinya alisha dari sekedar dialognya Alisha sering kali berbicara dengan sangat datar dan apa adanya, tanpa filter basa-basi atau emosi yang lazim dalam interaksi manusia. Hal ini memberikan kesan bahwa dia melihat dunia bukan sebagai tempat bersosialisasi, melainkan sebagai sebuah objek penelitian atau "bahan cerita."
Setiap kata yang keluar dari mulutnya hampir selalu berputar pada apa yang dia inginkan. Dia tidak melakukan percakapan untuk bertukar pikiran, tapi untuk mengarahkan orang lain masuk ke dalam skenario "fiksi" yang sedang dia bangun di kepalanya. saya mungkin relate dengan dirinya hanya pada sikap aneh tidak lebih dari itu entah ini sangat anomali.
dan betapa aktingnya kak ladya membuat muka dia selalu kebayang di memori otak-ku
#saya sayang kamu.