Monster
If only some people can have it, that's not happiness. That's just nonsense. Happiness is something anyone can have.
Ada sesuatu yang sangat jujur, painfully honest, tentang cara film ini memandang anak-anak. Bukan sebagai simbol kepolosan yang kosong, bukan juga sebagai alat drama murahan, tapi sebagai manusia kecil dengan dunia batin yang just as complex as us grown-ups, rapuh, dan penuh pertanyaan. Anak-anak di sini dibiarkan menjadi anak-anak: bingung, penasaran, keras kepala, takut, dan berani dalam waktu yang sama. Mereka tidak selalu tahu cara untuk menjelaskan perasaan mereka, tapi kamera dan narasi cerita memberi ruang bagi keheningan, tatapan, dan gestur kecil untuk berbicara lebih keras daripada dialog-dialog panjang orang dewasa.
Yang paling mengagumkan dari film ini adalah bagaimana film ini menunjukkan bahwa kejujuran anak sering kali terasa “mengganggu” bagi orang dewasa. Perspektif mereka terasa murni, tapi bukan naif. There’s pain, confusion, and empathy all tangled together, presented with incredible sensitivity. Alih-alih berusaha untuk menggurui kita, film ini mengajak kita untuk menunduk, menyamakan tinggi badan, dan benar-benar mendengarkan. Pada akhirnya, kekaguman terbesarku datang dari satu hal yang sederhana namun langka: kepercayaan penuh pada anak-anak sebagai subjek, bukan objek cerita. Dan dari situlah film ini terasa begitu manusiawi, lembut, dan diam-diam menghancurkan hati.
#top 250 narrative feature films