Conclave
Sinematografinya cakep banget, pemilihan kombinasi warna di sebuah adegannya juga bikin scene-nya makin cakep, pengantaran cerita di film ini juga membuat aku sebagai penonton selalu tertarik dengan setiap adegannya dan alurnya dengan pacing yang gak terlalu pelan tapi juga gak cepat, pas lah yaa.
Film ini tentang pemilihan paus baru setelah wafatnya paus sebelumnya, tradisi ini disebut Conlave. Dihadiri oleh 100 lebih kardinal dan dipimpin oleh kardinal Lawrence yang dipercaya untuk mengatur berjalannya conlave, para kardinal ini akan duduk berkumpul dan berdiskusi lalu melakukan voting siapa diantara mereka yang paling layak dijadikan paus berikutnya.
Yang menarik dari film ini adalah ketegangan politik yang terjadi diantara para kardinal yang sudah mulai terbagi menjadi beberapa pendukung tetapi semua ketegangan yang terjadi cenderung berjalan secara kondusif, sempat terjadi keributan tetapi tidak dalam waktu lama dan keributan itupun tetap didiskusikan bersama dan conclave tetap dilakukan secara kondusif tanpa ada keributan yang menyebabkan situasi jadi tidak kondusif, dan itu jadi hal yang menarik untuk disimak dari film ini, gimana mereka begitu hati²nya dalam mengambil keputusan dalam memilih pemimpin yang mana butuh waktu berhari-hari dan berkali-kali untuk melakukan voting yang bahkan ketika sudah ada yang unggul suara pun Lawrence sebagai Dekan masih tetap harus menyelidiki ketika ada kejanggalan terjadi di dalam kegiatan Conclave yang mengacu pada kandidat yang unggul, yang kemudian Lawrence memiliki wewenang untuk mengeluarkan kandidat unggul yang bermasalah dari pilihan yang kemudian membuat pelaksanaan conclave menjadi semakin panjang untuk memutuskan pemimpin yang ideal yang mana mereka tau bahwa tidak mungkin mereka akan menemukan seorang pemimpin yg mana seorang manusia tanpa kekurangan dan kecacatan dalam riwayat hidupnya, sehingga mereka harus memilih yang paling ideal diantara semua kandidat yg masing² memiliki kekurangan.