Fiction.
akhirnya sempat untuk nonton salah satu film favorit ini, di Hari Film Nasional, 30 Maret 2026 di tengah-tengah menyempatkan waktu ini🫠, mungkin saya akan menjelaskan beberapa aspek soal mengapa saya menyukai film ini secara subjektif saja, tentu ini spoiler(saya bukan kritikus yang bisa berlaku se-objektif mungkin dan tidak bisa membahas teknik penggambaran, teknik penceritaan, apaan itu buset, saya berbicara murni lewat hati perasaan saya asik).
Terlebih lagi menurut saya film ini banyak memunculkan rasa personal ke diri saya
Seperti membuka mata saya kepada per filman Indonesia yang membuat saya berpikir "mungkin harus memberi film Indonesia kesempatan kedua".
Ceritanya sebenarnya simpel, ga yang rumit banget, tentang seorang yang memiliki trauma masa kecil, lalu mencoba pergi dari kehidupan mewah nya mungkin karena melihat "kebebasan" dari sosok Bari, atau mungkin hal lain, semuanya di film ini terasa sangat blur sekali, yang jahat siapa?, yang agak "bodoh" siapa?, dan lain lain terasa ehhhmm?????
Inti penceritaannya bahkan sudah disebutkan di tengah-tengah film "Mungkin itu ya bedanya Fiksi sama Realita, kalo di fiksi bakal punya ending, kalo realita ya jalan aja terus".
Menurut gw film ini selain menggambarkan trauma seperti yang gw bilang tadi jelas aja, seperti scene ibunya bunuh diri depan anaknya, trs darah muncrat ke mukanya (bgst apaan itu), trs beberapa kali ibunya datang untuk memberi beberapa kata kata "semuanya terjadi ada artinya Alisha" atau saat si Alisha kecil ditembak oleh Alisha besar, atau hubungan tidak baik yang dimiliki oleh si bapaknya dengan si Alisha, itu mungkin sudah cukup jelas tergambar gitu
Namun film ini juga menggambarkan, apa ya mungkin memang keahlian acting Ladya Cheryl, menurut gw, kalo gw jadi Bari mungkin gw bakalan sama kaya Bari, terasa kebawa arus aja gitu, seperti tulisan yang dituliskan Bari ke Mia, "menarik sekali membaca deskripsimu mengenai saya Bari", kalo gw bisa bilang ini tuh kaya Rayuan Perempuan Gila yang beneran wtf, pemikiran kaya "i can save her" yang ditunjukkan lewat saat setelah di pasangan gay itu meninggal, Bari datang dan langsung memeluk Mia, dan menurut gw kenapa si Bari langsung berdiri merasa gelisah dan mau meninggalkan ruangan, itu karena Mia megang kemaluannya deh? bukan karena si Bari merasa dia punya Renta, ya tapi kan kita tau kejadian setelah itu apa kan, Bari benar-benar jadi "kebebasan" buat si Mia WKWKWKKW
Terus kalau banyak orang merasa film ini aneh, dan gapunya emosi, gw setuju, ada beberapa adegan disini yang gw kaya ngerasa apa ya, gabisa dijelasin kata-kata, mungkin karena Mouly Surya disini bener-bener menceritakan apa yang ingin diceritakan lewat visual, jadi ada beberapa hal yang gw miss, dan menurut gw, penceritaan dia disini terasa seperti buku gitu, kayanya orang kalo niat bisa dah buat ini sebagai buku, karena gw kebayang, tapi tetep feel-nya pasti beda, karena fokusnya disini adalah visual yang ga akan bisa dibawa ke medium buku.
Dan gw rasa keknya cerita ini mirip banget sama penceritaan Eka Kurniawan anjir WKWKWKKW, salah satu penulis favorit gw juga, kaya kamera diem, lalu visual yang berbicara itu, beberapa kali bisa gw gambarkan lewat buku-buku Eka Kurniawan, dan film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas menurut gw mirip banget, dan makanya kenapa gw suka sama film itu, mirip banget sama ini jir.
Kalo gw bisa bilang persamaan lainnya mungkin "romansa yang tragis" gokil, wajar ni 2 orang jadi favorit gw punya kesamaan ternyata
Ah kebanyakan yapping pokoknya saya rangkum disini aja alasan saya suka sama karya Mbak Mouly ini
1. Emosinya yang hampir ditiadakan, namun tidak benar-benar ditiadakan, hanya tidak terasa saja, dan lingkungan sekitar kaya emang ga mendukung ini buat emosional gitu, mirip seperti karya Eka Kurniawan yang juga saya suka
2. Karena minimnya emosi itu, penonton jadi bingung cara interpretasi, kita tau bahwa Mouly Surya sering kali menggunakan adegan se*s sebagai ya kebutuhan dasar manusia aja, sementara bahkan di bahasa Indonesia dan Inggris saja namanya "Bercinta" dan "Making Love"
itu membuat kaya kontradiksi, bahkan di film lain itu masih terasa seperti afeksinya, di film ini benar benar masih terasa hampa
3. Karena Kehampaan itu membuat penonton mengisi sendiri kekosongan itu dengan much information, saya terbuka kalo beberapa opini saya ini bener bener out of context dari filmnya, tapi saya beneran jaga ini biar ga kemana mana bener bener ni film liar bgt soalnya🫠
4. Kesamaan dengan karya Eka Kurniawan yaitu "Romansa yang Tragis" mungkin kalo Mas Eka somehow membuat cerita seperti ini atau mirip seperti ini, saya rasa akan benar benar seperti ini, mungkin dengan sedikit context penekanan atau berlebihan ala Eka Kurniawan yang mungkin hanya pembacanya yang paham maksud saya
yah intinya itu mungkin beberapa alasan saya suka film ini, sori kalo misalnya kemana-mana sampe bahas penulis buku njir anw Selamat Hari Film Nasional semuanya!!!!