
The Exiles
2024·Documentary·1h 58m
7.2
★






During the 1965 mass killings to eliminate the Indonesian Communist Party, the new regime banned scholars in the Soviet Union and China, forcing them into exile across Europe. This documentary follows those displaced individuals as they navigate the Netherlands, Czech Republic, Sweden, Germany, and Indonesia, reflecting on the traumatic events that uprooted their lives.
Directed by Lola Amaria
exile
navigation
exiled
students

Trailer

IMDB
N/A
Cast

Lola Amaria
Self - Narrator and Researcher
Crew

Lola Amaria
Director

Lola Amaria
Writer

Shalahuddin Siregar
Editor

Shalahuddin Siregar
Director of Photography

Lola Amaria
Producer
Popular Reviews
40 reviews
Reynata
10.0★ · 02/02/24

Negara bangsat.
Eksil berhasil menampar gw dan semua mimpi-mimpi yang gw punya tentang keinginan untuk bisa menetap di luar negeri dan menjauh dari segala hiruk pikuk kehidupan negeri ini. Gw kembali disadarkan ternyata bener kata Ibu Sud "...tetapi kampung dan rumahku, disanalah ku rasa senang."
Mendengar langsung cerita dari para eksil tentang cintanya pada negeri ini dan perjuangan mereka untuk dapat kembali ke pangkuan ibu pertiwi, namun justru diasingkan dan tidak dianggap oleh negerinya sendiri is the most painful feeling I've ever felt in my whole life, ini gw beneran. God, why do you keep our country away from people who really care, but instead you bring this country closer to hypocritical leaders based on fake nationalism. I hate it!
Cerita masa lalu yang kelam nan pedih dari para eksil ini benar-benar membuka mata gw tentang kebenaran-kebenaran yang gak pernah diajarkan dan justru selama ini ditutup-tutupi oleh para pemangku kepentingan—at least buat gw, semua kisah yang diungkap di film ini adalah fakta yang baru gw ketahui. Mau sampai kapan ya, generasi kita terus-menerus dibodohi sama propaganda dan doktrin textbook bangku sekolah yang mislead ini. Negeri ini mesti berbenah!
Pengalaman menonton Eksil menjadi pengalaman tak terlupakan buat gw, this is new core memory for me personally. Perasaan gw bener-bener diluluh lantakan oleh film ini, dihancurkan sampai berkeping-keping. Gak keitung berapa kali air mata gw menetes sepanjang dua jam durasi film ini, sampai puncaknya ketika scene upacara kematian Bapak Mintardjo dengan iringan choir yang menyanyikan lagu Indonesia Pusaka. I can't handle my tears, banjir seada-adanya. Gw cuma bisa berdoa untuk para eksil yang ada diluar sana, semoga segala niat baik n ur eternal love for Indonesia dapat ganjaran yang setimpal dari semesta, semoga hal-hal baik menyertai kalian semua. Terima kasih sudah berbagi cerita; kecewa, luka, dan air mata. TERIMA KASIH.
Gak lupa terima kasih juga yang sebesar-besarnya untuk Lola Amaria n team yang sudah berkenan untuk membuat film ini dengan sepenuh hati. Delapan tahun proses produksi yang pastinya memakan banyak sekali tenaga dan air mata. Terima kasih karena sudah dengan sangat berani mengungkap kebenaran. Sehat-sehat kalian. Eksil benar-benar layak untuk dapat perhatian dari seluruh rakyat Indonesia, semua orang harus tahu kisah pedih yang ditanggung para eksil akibat bobroknya pemikiran para pemangku kepentingan negeri ini.
Eksil berhasil menampar gw dan semua mimpi-mimpi yang gw punya tentang keinginan untuk bisa menetap di luar negeri dan menjauh dari segala hiruk pikuk kehidupan negeri ini. Gw kembali disadarkan ternyata bener kata Ibu Sud "...tetapi kampung dan rumahku, disanalah ku rasa senang."
Mendengar langsung cerita dari para eksil tentang cintanya pada negeri ini dan perjuangan mereka untuk dapat kembali ke pangkuan ibu pertiwi, namun justru diasingkan dan tidak dianggap oleh negerinya sendiri is the most painful feeling I've ever felt in my whole life, ini gw beneran. God, why do you keep our country away from people who really care, but instead you bring this country closer to hypocritical leaders based on fake nationalism. I hate it!
Cerita masa lalu yang kelam nan pedih dari para eksil ini benar-benar membuka mata gw tentang kebenaran-kebenaran yang gak pernah diajarkan dan justru selama ini ditutup-tutupi oleh para pemangku kepentingan—at least buat gw, semua kisah yang diungkap di film ini adalah fakta yang baru gw ketahui. Mau sampai kapan ya, generasi kita terus-menerus dibodohi sama propaganda dan doktrin textbook bangku sekolah yang mislead ini. Negeri ini mesti berbenah!
Pengalaman menonton Eksil menjadi pengalaman tak terlupakan buat gw, this is new core memory for me personally. Perasaan gw bener-bener diluluh lantakan oleh film ini, dihancurkan sampai berkeping-keping. Gak keitung berapa kali air mata gw menetes sepanjang dua jam durasi film ini, sampai puncaknya ketika scene upacara kematian Bapak Mintardjo dengan iringan choir yang menyanyikan lagu Indonesia Pusaka. I can't handle my tears, banjir seada-adanya. Gw cuma bisa berdoa untuk para eksil yang ada diluar sana, semoga segala niat baik n ur eternal love for Indonesia dapat ganjaran yang setimpal dari semesta, semoga hal-hal baik menyertai kalian semua. Terima kasih sudah berbagi cerita; kecewa, luka, dan air mata. TERIMA KASIH.
Gak lupa terima kasih juga yang sebesar-besarnya untuk Lola Amaria n team yang sudah berkenan untuk membuat film ini dengan sepenuh hati. Delapan tahun proses produksi yang pastinya memakan banyak sekali tenaga dan air mata. Terima kasih karena sudah dengan sangat berani mengungkap kebenaran. Sehat-sehat kalian. Eksil benar-benar layak untuk dapat perhatian dari seluruh rakyat Indonesia, semua orang harus tahu kisah pedih yang ditanggung para eksil akibat bobroknya pemikiran para pemangku kepentingan negeri ini.
Negara bangsat.
Eksil berhasil menampar gw dan semua mimpi-mimpi yang gw punya tentang keinginan untuk bisa menetap di luar negeri dan menjauh dari segala hiruk pikuk kehidupan negeri ini. Gw kembali disadarkan ternyata bener kata Ibu Sud "...tetapi kampung dan rumahku, disanalah ku rasa senang."
Mendengar langsung cerita dari para eksil tentang cintanya pada negeri ini dan perjuangan mereka untuk dapat kembali ke pangkuan ibu pertiwi, namun justru diasingkan dan tidak dianggap oleh negerinya sendiri is the most painful feeling I've ever felt in my whole life, ini gw beneran. God, why do you keep our country away from people who really care, but instead you bring this country closer to hypocritical leaders based on fake nationalism. I hate it!
Cerita masa lalu yang kelam nan pedih dari para eksil ini benar-benar membuka mata gw tentang kebenaran-kebenaran yang gak pernah diajarkan dan justru selama ini ditutup-tutupi oleh para pemangku kepentingan—at least buat gw, semua kisah yang diungkap di film ini adalah fakta yang baru gw ketahui. Mau sampai kapan ya, generasi kita terus-menerus dibodohi sama propaganda dan doktrin textbook bangku sekolah yang mislead ini. Negeri ini mesti berbenah!
Pengalaman menonton Eksil menjadi pengalaman tak terlupakan buat gw, this is new core memory for me personally. Perasaan gw bener-bener diluluh lantakan oleh film ini, dihancurkan sampai berkeping-keping. Gak keitung berapa kali air mata gw menetes sepanjang dua jam durasi film ini, sampai puncaknya ketika scene upacara kematian Bapak Mintardjo dengan iringan choir yang menyanyikan lagu Indonesia Pusaka. I can't handle my tears, banjir seada-adanya. Gw cuma bisa berdoa untuk para eksil yang ada diluar sana, semoga segala niat baik n ur eternal love for Indonesia dapat ganjaran yang setimpal dari semesta, semoga hal-hal baik menyertai kalian semua. Terima kasih sudah berbagi cerita; kecewa, luka, dan air mata. TERIMA KASIH.
Gak lupa terima kasih juga yang sebesar-besarnya untuk Lola Amaria n team yang sudah berkenan untuk membuat film ini dengan sepenuh hati. Delapan tahun proses produksi yang pastinya memakan banyak sekali tenaga dan air mata. Terima kasih karena sudah dengan sangat berani mengungkap kebenaran. Sehat-sehat kalian. Eksil benar-benar layak untuk dapat perhatian dari seluruh rakyat Indonesia, semua orang harus tahu kisah pedih yang ditanggung para eksil akibat bobroknya pemikiran para pemangku kepentingan negeri ini.
Eksil berhasil menampar gw dan semua mimpi-mimpi yang gw punya tentang keinginan untuk bisa menetap di luar negeri dan menjauh dari segala hiruk pikuk kehidupan negeri ini. Gw kembali disadarkan ternyata bener kata Ibu Sud "...tetapi kampung dan rumahku, disanalah ku rasa senang."
Mendengar langsung cerita dari para eksil tentang cintanya pada negeri ini dan perjuangan mereka untuk dapat kembali ke pangkuan ibu pertiwi, namun justru diasingkan dan tidak dianggap oleh negerinya sendiri is the most painful feeling I've ever felt in my whole life, ini gw beneran. God, why do you keep our country away from people who really care, but instead you bring this country closer to hypocritical leaders based on fake nationalism. I hate it!
Cerita masa lalu yang kelam nan pedih dari para eksil ini benar-benar membuka mata gw tentang kebenaran-kebenaran yang gak pernah diajarkan dan justru selama ini ditutup-tutupi oleh para pemangku kepentingan—at least buat gw, semua kisah yang diungkap di film ini adalah fakta yang baru gw ketahui. Mau sampai kapan ya, generasi kita terus-menerus dibodohi sama propaganda dan doktrin textbook bangku sekolah yang mislead ini. Negeri ini mesti berbenah!
Pengalaman menonton Eksil menjadi pengalaman tak terlupakan buat gw, this is new core memory for me personally. Perasaan gw bener-bener diluluh lantakan oleh film ini, dihancurkan sampai berkeping-keping. Gak keitung berapa kali air mata gw menetes sepanjang dua jam durasi film ini, sampai puncaknya ketika scene upacara kematian Bapak Mintardjo dengan iringan choir yang menyanyikan lagu Indonesia Pusaka. I can't handle my tears, banjir seada-adanya. Gw cuma bisa berdoa untuk para eksil yang ada diluar sana, semoga segala niat baik n ur eternal love for Indonesia dapat ganjaran yang setimpal dari semesta, semoga hal-hal baik menyertai kalian semua. Terima kasih sudah berbagi cerita; kecewa, luka, dan air mata. TERIMA KASIH.
Gak lupa terima kasih juga yang sebesar-besarnya untuk Lola Amaria n team yang sudah berkenan untuk membuat film ini dengan sepenuh hati. Delapan tahun proses produksi yang pastinya memakan banyak sekali tenaga dan air mata. Terima kasih karena sudah dengan sangat berani mengungkap kebenaran. Sehat-sehat kalian. Eksil benar-benar layak untuk dapat perhatian dari seluruh rakyat Indonesia, semua orang harus tahu kisah pedih yang ditanggung para eksil akibat bobroknya pemikiran para pemangku kepentingan negeri ini.
1
HananRais
10.0★ · 07/11/26

"bahkan pembunuh yang dapat hukuman 20-25 tahun, hukuman kami jauh lebih lama daripada itu"
.....
"bahkan pembunuh yang dapat hukuman 20-25 tahun, hukuman kami jauh lebih lama daripada itu"
.....
Emm

Sueño cumplido.
Ya puedo decir que he trabajado en una película: esta!
Gracias a todo el equipo de “Los Tortuga” por la oportunidad y por hacer posible esta experiencia. 💚
P.D.: Si veis los créditos, por ahí aparezco.
Tortuga para siempre🐢
Ya puedo decir que he trabajado en una película: esta!
Gracias a todo el equipo de “Los Tortuga” por la oportunidad y por hacer posible esta experiencia. 💚
P.D.: Si veis los créditos, por ahí aparezco.
Tortuga para siempre🐢
Sueño cumplido.
Ya puedo decir que he trabajado en una película: esta!
Gracias a todo el equipo de “Los Tortuga” por la oportunidad y por hacer posible esta experiencia. 💚
P.D.: Si veis los créditos, por ahí aparezco.
Tortuga para siempre🐢
Ya puedo decir que he trabajado en una película: esta!
Gracias a todo el equipo de “Los Tortuga” por la oportunidad y por hacer posible esta experiencia. 💚
P.D.: Si veis los créditos, por ahí aparezco.
Tortuga para siempre🐢
Farrel
9.4★ · 03/08/25

FUCK. THE. GOVERNMENT. I REPEAT. FUCK THEM.
FUCK. THE. GOVERNMENT. I REPEAT. FUCK THEM.
chae
10.0★ · 03/08/25

“indonesia is my country. my homeland, i was born there. i’ll always defend it”. IM CRYINGGGFGGGG
“indonesia is my country. my homeland, i was born there. i’ll always defend it”. IM CRYINGGGFGGGG