Fuck men.Di awal film ditunjukkan kalau Orpa kehilangan suaminya, seorang pelindung telah gugur, Orpa menerima tekanan batin dari berbagai sisi. Dan harus berjuang sendirian merawat anaknya Martha yang pulang dari Malaysia menjadi korban kekerasan seksual.
Tidak ada scene flashback, tidak ada narasi voice over, tapi tanpa itu filmnya masih dengan jelas menjawab keadaan yang dialami Martha sebelumnya.
Martha dirawat penuh kasih oleh ibu dan adiknya, Bertha perlu menanggung beban yang tidak seharusnya ditanggung oleh anak seumurannya.
Bertha masih muda, punya impian, dan itu semua dihancurkan oleh laki-laki biadab.
Pada akhirnya semua karakter utama perempuan di film ini tidak berakhir bernasib baik.
Ini bukan film feminisme. Banyak yang bingung kenapa film ini tidak menunjukkan perlawanan dari korban yang begitu signifikan, tentu saja, ini film dari pov laki-laki, yang menjadikan kelamin sebagai senjata😂
Walau tidak menggambarkan women empowering secara eksplisit, namun menjadi pesan tersirat, se tidak berdaya apa perempuan di pulau Rote, pulau yang indahnya macam percikan dari surga, yang di sisi lain banyak sekali perempuan yang tinggal di sana yang sengsara. Film jni membicarakan ketimpagan hukum yang memandang seksualitas, hukum adat, dan pemikiran orang-orang dahulu.
Tidak ada momen kehangatan yang begitu menyentuh sampai membuat meneskan air mata, mau di scene paling sedih sekalipun. Malahan, scene yang buat menangis dari seluruh ketegangan film ini yang didukung long-take yang sangat banyak, yaitu saat sekumpulan Mama-mama menyuarakan hak perempuan ke kantor polisi. Menunjukkan betapa kurangnya diperhatikan kasus dan korban pelecehan/kekerasan seksual.