"Inilah kantor Pemuda Pancasila, dan disini lah selalu saya menghabisi nyawa orang. Kadang-kadang tidak begitu sadis, duduk, kadang-kadang kasih rokok dulu, seperti menghabisi dengan gembira!"
—
"Saya sadari, bahwa mimpi jelek saya itu datangnya semata-mata hak dari pekerjaan saya. Membunuh orang yang tidak menginginkan mati, saya paksakan dia harus mati."
—
"Puluhan atau ratusan itu mati, udah jadi rahasia umum."
—
"Definisi-definisi kejahatan perang, itu buatan orang yang menang. Saya pemenang, saya mesti bikin juga definisi kejahatan perang."
—
"Sebetulnya dpr ini tempat yang paling mulia sekali. Tapi kalau kita lihat kerjaannya, itulah yang namanya perampok berdasi."
—
"Herman ini punya ambisi besar, mau jadi ini, mau jadi itu. Calon-calon yang banyak duit aja bingung buat bagi bagi duit. Ini dia modal ludah sama lidah aja, macam mana dia mau dapat."
—
Film ini terang terangan dan jujur banget gimana mau ngegambarin pelaku yang bangga dan gak ada rasa bersalah sama sekali sama perbuatannya, sambil mereka reka ulang adegannya dengan santai dan ketawa, terus mereka nganggep bahwa perbuatan yang mereka lakuin itu sah, kayak wooii mereka sikopat bgt trus kayak puas bgt ngebunuh korban mereka, mereka anggap membunuh itu seni kah... Mana pembunuhan yang mereka lakuin terinspirasi dari gaya-gaya cara membunuh di film Hollywood favorit mereka lagi. Ada adegan di mana mereka ngegambarin buat nge geprek kepala orang pake kaki meja sampe mati. Terus mereka mulai ketawa sambil niruin korban mereka, truly sadis sih. Apalagi pas preman meras duit ke pedangang tionghoa, gak manusiawi bgt si kimak ini jinkk, seenaknya bgt begitu, mentang-mentang punya backingan.
Anwar Congo ini punya rasa bersalah yang di pendam deh kayaknya, dia mulai ngerasain gimana rasa traumatisnya meragain adegan adegan itu, bisa di liat gimana cara dia nyeritain dan ngerasain mimpi buruk nya. Terus pas dia bicara di ending nya juga, kayak dia udah mulai sadar dan nunjukkin sedikit empati sama korbannya.
Keren sih, film dokumenter yang terbuka dan berani gini, yang bisa menyampaikan bahwasannya indonesia punya sisi kelam yang tahun demi tahun terus ditutupi. Nyampe bgt pemahaman gw sama ni film dokumenter.