
Samsara
2024·Drama·1h 30m
7.1
★










Darta, a man from an impoverished family, is rejected by the wealthy parents of the woman he loves. Desperate, he strikes a bargain with the Monkey King, performing a dark ritual to gain wealth. However, in doing so, he accidentally curses his wife and child to a life of suffering. Rooted in Indonesian mysticism, this universal narrative explores the insatiable hunger to become something one is not and the boundaries one is willing to cross to achieve it.
Directed by Garin Nugroho
dance
orchestra
black and white
silent film
balinese culture
maestro
traditional dance
bali, indonesia
cine-concert

Trailer

IMDB
N/A
Cast

Ario Bayu
Darta

Juliet Burnett
Sinta

Valentine Payen
Sinta's Mother

Alit Aryani Willems
The Balian
Crew

Garin Nugroho
Director

Garin Nugroho
Writer

Batara Goempar
Director of Photography

Gita Fara
Producer

Aldo Swastia
Producer

Batara Goempar
Co-Producer

Ario Bayu
Executive Producer

Rai Pendet
Co-Producer

Vida Sylvia
Production Designer

Retno Ratih Damayanti
Costume Designer
Popular Reviews
27 reviews
Hafizh
8.0★ · 01/30/26

first time nonton film bisu item putih, kirain bakal susah dimengerti dan bikin bingung, ternyata cara penyampaian ceritanya cuku bagus. filmnya dipotong menjadi beberapa babak, dan disetiap babak dijelasin apa something yang akan terjadi di babak tersebut. semua pemain di film ini dapet semua actingnya, mulai dari mimik wajah, dan gerakan tubuh yang indah diiringi alunan gamelan dan vokal yang pelan dan melankolis. dari awal film udah dibikin terpukau sama visual dan cinematography nya, semua scene disini literally bisa dijadiin wallpaper desktop.
first time nonton film bisu item putih, kirain bakal susah dimengerti dan bikin bingung, ternyata cara penyampaian ceritanya cuku bagus. filmnya dipotong menjadi beberapa babak, dan disetiap babak dijelasin apa something yang akan terjadi di babak tersebut. semua pemain di film ini dapet semua actingnya, mulai dari mimik wajah, dan gerakan tubuh yang indah diiringi alunan gamelan dan vokal yang pelan dan melankolis. dari awal film udah dibikin terpukau sama visual dan cinematography nya, semua scene disini literally bisa dijadiin wallpaper desktop.
2
MopudPRO
10.0★ · 12/05/24

SAMSARA salah satu film terbaik, menurut saya semua penghargaan yang diraih film ini memang sangat layak, seperti Best Director, Best Cinematography, Best Music, dan Best Costume Design. Para aktor dalam film ini tampil dengan sangat luar biasa.
Saya menonton cine-concert film ini, dan para pemain gamelannya benar-benar memukau. Selama acara berlangsung, saya dibuat kagum oleh penampilan mereka yang begitu luar biasa.
Ini adalah pengalaman yang sangat berkesan dan tak terlupakan bagi saya. sangat disarankan menonton cine-concert nya karna experience yang diberikan sangat worth it‼️💯
Saya menonton cine-concert film ini, dan para pemain gamelannya benar-benar memukau. Selama acara berlangsung, saya dibuat kagum oleh penampilan mereka yang begitu luar biasa.
Ini adalah pengalaman yang sangat berkesan dan tak terlupakan bagi saya. sangat disarankan menonton cine-concert nya karna experience yang diberikan sangat worth it‼️💯
SAMSARA salah satu film terbaik, menurut saya semua penghargaan yang diraih film ini memang sangat layak, seperti Best Director, Best Cinematography, Best Music, dan Best Costume Design. Para aktor dalam film ini tampil dengan sangat luar biasa.
Saya menonton cine-concert film ini, dan para pemain gamelannya benar-benar memukau. Selama acara berlangsung, saya dibuat kagum oleh penampilan mereka yang begitu luar biasa.
Ini adalah pengalaman yang sangat berkesan dan tak terlupakan bagi saya. sangat disarankan menonton cine-concert nya karna experience yang diberikan sangat worth it‼️💯
Saya menonton cine-concert film ini, dan para pemain gamelannya benar-benar memukau. Selama acara berlangsung, saya dibuat kagum oleh penampilan mereka yang begitu luar biasa.
Ini adalah pengalaman yang sangat berkesan dan tak terlupakan bagi saya. sangat disarankan menonton cine-concert nya karna experience yang diberikan sangat worth it‼️💯
1
umbrElla
5.0★ · 06/29/26






it’s supposed to be popular
it’s supposed to be popular
chae
8.0★ · 05/14/26

negara sekaya ini kenapa harus dipimpin sama [sbagian teks hilang]
negara sekaya ini kenapa harus dipimpin sama [sbagian teks hilang]
Jojoddd
10.0★ · 03/28/26

mau nikah > ga di restuin > buat perjanjian
Mungkin premisnya emang udah biasa banget. Udah bejibun film horror Indo yang ambil premis kayak gitu, tapi film ini berhasil buat Stand out. Bukan karena jumpscare fest atau apapun itu, tapi film ini berhasil stand out karena alih alih menjadikan film ini full blown horror, Garin Nugroho membuat film ini menjadi film yang sakral dan megah. Sebagai mahasiswa Antropologi yang fokusnya di daerah Bali, gw bisa akuin film ini berhasil banget untuk membangun atmosfer sakralnya dari pilihan-pilihan musiknya. gerakan-gerakannya pun feels very authentic, setiap pemeran koloni monyet tersebut seakan-akan they are part of the colony from birth. kostum raja monyet alih-alih dibuat serem, kostumnya terasa akbar & sakral sebuah visual simbolik that he really is the monkey king.
film ini deserve buat dapet kategori best cinematography. hitam putih disini ternyata ga asal. ada beberapa scene yang berhasil ngebuat gw terpukau, semua scene dengan background views gunung Batur, Abang, dan Agung secara berderet adalah scene favorit gw karena beneran se-indah itu. Dan juga background views gunung² tersebut selalu digunakan ketika ritual & scene koloni monyet maybe a nod to balinese philosophy where it says gunung adalah tempat yang keramat dan dikatakan sebagai tempat tinggal para dewa.
Jujur film ini feels more like an ethnovideography from Margaret Mead (Trance and Dance in Bali) bcs of how authentic this film is.
Mungkin premisnya emang udah biasa banget. Udah bejibun film horror Indo yang ambil premis kayak gitu, tapi film ini berhasil buat Stand out. Bukan karena jumpscare fest atau apapun itu, tapi film ini berhasil stand out karena alih alih menjadikan film ini full blown horror, Garin Nugroho membuat film ini menjadi film yang sakral dan megah. Sebagai mahasiswa Antropologi yang fokusnya di daerah Bali, gw bisa akuin film ini berhasil banget untuk membangun atmosfer sakralnya dari pilihan-pilihan musiknya. gerakan-gerakannya pun feels very authentic, setiap pemeran koloni monyet tersebut seakan-akan they are part of the colony from birth. kostum raja monyet alih-alih dibuat serem, kostumnya terasa akbar & sakral sebuah visual simbolik that he really is the monkey king.
film ini deserve buat dapet kategori best cinematography. hitam putih disini ternyata ga asal. ada beberapa scene yang berhasil ngebuat gw terpukau, semua scene dengan background views gunung Batur, Abang, dan Agung secara berderet adalah scene favorit gw karena beneran se-indah itu. Dan juga background views gunung² tersebut selalu digunakan ketika ritual & scene koloni monyet maybe a nod to balinese philosophy where it says gunung adalah tempat yang keramat dan dikatakan sebagai tempat tinggal para dewa.
Jujur film ini feels more like an ethnovideography from Margaret Mead (Trance and Dance in Bali) bcs of how authentic this film is.
mau nikah > ga di restuin > buat perjanjian
Mungkin premisnya emang udah biasa banget. Udah bejibun film horror Indo yang ambil premis kayak gitu, tapi film ini berhasil buat Stand out. Bukan karena jumpscare fest atau apapun itu, tapi film ini berhasil stand out karena alih alih menjadikan film ini full blown horror, Garin Nugroho membuat film ini menjadi film yang sakral dan megah. Sebagai mahasiswa Antropologi yang fokusnya di daerah Bali, gw bisa akuin film ini berhasil banget untuk membangun atmosfer sakralnya dari pilihan-pilihan musiknya. gerakan-gerakannya pun feels very authentic, setiap pemeran koloni monyet tersebut seakan-akan they are part of the colony from birth. kostum raja monyet alih-alih dibuat serem, kostumnya terasa akbar & sakral sebuah visual simbolik that he really is the monkey king.
film ini deserve buat dapet kategori best cinematography. hitam putih disini ternyata ga asal. ada beberapa scene yang berhasil ngebuat gw terpukau, semua scene dengan background views gunung Batur, Abang, dan Agung secara berderet adalah scene favorit gw karena beneran se-indah itu. Dan juga background views gunung² tersebut selalu digunakan ketika ritual & scene koloni monyet maybe a nod to balinese philosophy where it says gunung adalah tempat yang keramat dan dikatakan sebagai tempat tinggal para dewa.
Jujur film ini feels more like an ethnovideography from Margaret Mead (Trance and Dance in Bali) bcs of how authentic this film is.
Mungkin premisnya emang udah biasa banget. Udah bejibun film horror Indo yang ambil premis kayak gitu, tapi film ini berhasil buat Stand out. Bukan karena jumpscare fest atau apapun itu, tapi film ini berhasil stand out karena alih alih menjadikan film ini full blown horror, Garin Nugroho membuat film ini menjadi film yang sakral dan megah. Sebagai mahasiswa Antropologi yang fokusnya di daerah Bali, gw bisa akuin film ini berhasil banget untuk membangun atmosfer sakralnya dari pilihan-pilihan musiknya. gerakan-gerakannya pun feels very authentic, setiap pemeran koloni monyet tersebut seakan-akan they are part of the colony from birth. kostum raja monyet alih-alih dibuat serem, kostumnya terasa akbar & sakral sebuah visual simbolik that he really is the monkey king.
film ini deserve buat dapet kategori best cinematography. hitam putih disini ternyata ga asal. ada beberapa scene yang berhasil ngebuat gw terpukau, semua scene dengan background views gunung Batur, Abang, dan Agung secara berderet adalah scene favorit gw karena beneran se-indah itu. Dan juga background views gunung² tersebut selalu digunakan ketika ritual & scene koloni monyet maybe a nod to balinese philosophy where it says gunung adalah tempat yang keramat dan dikatakan sebagai tempat tinggal para dewa.
Jujur film ini feels more like an ethnovideography from Margaret Mead (Trance and Dance in Bali) bcs of how authentic this film is.