mau nikah > ga di restuin > buat perjanjian
Mungkin premisnya emang udah biasa banget. Udah bejibun film horror Indo yang ambil premis kayak gitu, tapi film ini berhasil buat Stand out. Bukan karena jumpscare fest atau apapun itu, tapi film ini berhasil stand out karena alih alih menjadikan film ini full blown horror, Garin Nugroho membuat film ini menjadi film yang sakral dan megah. Sebagai mahasiswa Antropologi yang fokusnya di daerah Bali, gw bisa akuin film ini berhasil banget untuk membangun atmosfer sakralnya dari pilihan-pilihan musiknya. gerakan-gerakannya pun feels very authentic, setiap pemeran koloni monyet tersebut seakan-akan they are part of the colony from birth. kostum raja monyet alih-alih dibuat serem, kostumnya terasa akbar & sakral sebuah visual simbolik that he really is the monkey king.
film ini deserve buat dapet kategori best cinematography. hitam putih disini ternyata ga asal. ada beberapa scene yang berhasil ngebuat gw terpukau, semua scene dengan background views gunung Batur, Abang, dan Agung secara berderet adalah scene favorit gw karena beneran se-indah itu. Dan juga background views gunung² tersebut selalu digunakan ketika ritual & scene koloni monyet maybe a nod to balinese philosophy where it says gunung adalah tempat yang keramat dan dikatakan sebagai tempat tinggal para dewa.
Jujur film ini feels more like an ethnovideography from Margaret Mead (Trance and Dance in Bali) bcs of how authentic this film is.
mau nikah > ga di restuin > buat perjanjian
Mungkin premisnya emang udah biasa banget. Udah bejibun film horror Indo yang ambil premis kayak gitu, tapi film ini berhasil buat Stand out. Bukan karena jumpscare fest atau apapun itu, tapi film ini berhasil stand out karena alih alih menjadikan film ini full blown horror, Garin Nugroho membuat film ini menjadi film yang sakral dan megah. Sebagai mahasiswa Antropologi yang fokusnya di daerah Bali, gw bisa akuin film ini berhasil banget untuk membangun atmosfer sakralnya dari pilihan-pilihan musiknya. gerakan-gerakannya pun feels very authentic, setiap pemeran koloni monyet tersebut seakan-akan they are part of the colony from birth. kostum raja monyet alih-alih dibuat serem, kostumnya terasa akbar & sakral sebuah visual simbolik that he really is the monkey king.
film ini deserve buat dapet kategori best cinematography. hitam putih disini ternyata ga asal. ada beberapa scene yang berhasil ngebuat gw terpukau, semua scene dengan background views gunung Batur, Abang, dan Agung secara berderet adalah scene favorit gw karena beneran se-indah itu. Dan juga background views gunung² tersebut selalu digunakan ketika ritual & scene koloni monyet maybe a nod to balinese philosophy where it says gunung adalah tempat yang keramat dan dikatakan sebagai tempat tinggal para dewa.
Jujur film ini feels more like an ethnovideography from Margaret Mead (Trance and Dance in Bali) bcs of how authentic this film is.