92/100
89th watch in 2026.
Lagi-lagi Kore-eda ngobrak-abrik perspektif tentang keluarga. Dan lagi-lagi dibikin jatuh cinta sama karya-karyanya doi.
Selain itu, film ini nunjukin ke kita gimana si borjuis kecil—Ryota—arsitek kaya raya yang ngadopsi kesadaran kelas atas yang mandang semua hal—termasuk anak—secara transaksional demi status sosial, dipandang sebagai properti, dan proyek investasi. Sebaliknya, Yudai ngegambarin proletar yang hidup pas-pasan di pinggiran kota lewat toko kelontongnya, dan dipandang sebelah mata sama Ryota karena status ekonominya. Film ini nunjukin yang dipandang sebelah mata sama Ryota, justru malah yang bebas karena dia lepas dari rantai eksploitasi. Itu yang ngebuat Yudai punya hal yang Ryota gak bisa beli: waktu dan kedekatan sama anaknya.
Hebatnya, Kore-eda ngebungkus kritik kelas ini gak pake cara yang terkesan memggurui dan berapi-api, tapi lewat cerita yang emosional. Sekali lagi, jatuh cinta sama banget sama karyanya dia.
92/100
89th watch in 2026.
Lagi-lagi Kore-eda ngobrak-abrik perspektif tentang keluarga. Dan lagi-lagi dibikin jatuh cinta sama karya-karyanya doi.
Selain itu, film ini nunjukin ke kita gimana si borjuis kecil—Ryota—arsitek kaya raya yang ngadopsi kesadaran kelas atas yang mandang semua hal—termasuk anak—secara transaksional demi status sosial, dipandang sebagai properti, dan proyek investasi. Sebaliknya, Yudai ngegambarin proletar yang hidup pas-pasan di pinggiran kota lewat toko kelontongnya, dan dipandang sebelah mata sama Ryota karena status ekonominya. Film ini nunjukin yang dipandang sebelah mata sama Ryota, justru malah yang bebas karena dia lepas dari rantai eksploitasi. Itu yang ngebuat Yudai punya hal yang Ryota gak bisa beli: waktu dan kedekatan sama anaknya.
Hebatnya, Kore-eda ngebungkus kritik kelas ini gak pake cara yang terkesan memggurui dan berapi-api, tapi lewat cerita yang emosional. Sekali lagi, jatuh cinta sama banget sama karyanya dia.