Cinematographynya membuat merasa kurang nyaman selama menonton, tapi itu bukan hal buruk, justru malah memberikan sensasi yang berbeda. Eksplorasi sepanjang film ini, serasa kita sedang masuk kedalam dunia fiksi yang ditulis Bari, dan itu meng-highlight semua plus point dari film ini, ditambah caharacter developmentnya yang menjadi pondasi buat film ini lebih bermakna dalam lagi.
Alisha, atau dikenal dengan Mia, dia adalah seorang gadis yang berparas polos, jarang tersentuh dunia luar, hidupnya selalu berada dalam bayang bayang. Walau rumahnya besar, kolamnya luas, les cello diantar jemput dengan supir, tapi itu bukan apa-apa, dia hanya seorang anak orang kaya yang hidup tanpa cinta. Lalu, semuanya berubah ketika ia jatuh cinta pada seorang pria, benar benar seperti fiksi, cinta pada pandangan pertama.
Pria itu hidup di dalam rumah susun bertahun tahun lamanya. Mencari inspirasi untuk menulis. Mia memiliki ambisi tinggi untuk pergi dari bayang bayang, dan mengikuti bayangan sendiri, masuk kedalam rumah susun, dia merasa sangat asing dengan lingkungannya, sampai dirinya berinteraksi dengan cinta fiksinya, pria itu Bari.
Ia Tinggal dikamar persis samping kamarnya, namun tiap malam, tampak sudah ada kekasih yang menunggunya pulang. Orangnya pintar, cerdas, kutu buku, keras kepala, pasangan hidup, Renta. Begitulah sekiranya deskripsi dari Bari tentangnya.
Bari ternyata seorang penulis, kalau sudah mulai menulis, seperti autis, begitulah sekiranya deskripsi dari Renta tentangnya. Bari menulis semua yang telah dia eksplorasi di rumah susun, namun belum menemukan ending daripada cerita-ceritanya . “Di fiksi ada ending, di realita, ya, goes on(hidup terus berjalan)”
Mia benar benar berambisi agar Bari dapat menyelesaikan cerita-ceritanya, setelah diajak bereksplorasi dengan Bari, dan setelah membaca naskah tulisannya, Mia dengan mudah mengerti pandangan Bari tentang sekitar, dan dia berambisi dengan misi yang diluar ekspektasi.
“Saya bukan psikopat Bar, saya sayang kamu”
Paras ‘polos’ yg melakukan apa saja, bahkan tak terduga, demi ingin mengetahui akhir dari cerita, dan kasih sayang cinta.
“Bagaimana cerita ini akan berakhir Bar? Semua kejadian ada tujuannya.”
Cinematographynya membuat merasa kurang nyaman selama menonton, tapi itu bukan hal buruk, justru malah memberikan sensasi yang berbeda. Eksplorasi sepanjang film ini, serasa kita sedang masuk kedalam dunia fiksi yang ditulis Bari, dan itu meng-highlight semua plus point dari film ini, ditambah caharacter developmentnya yang menjadi pondasi buat film ini lebih bermakna dalam lagi.
Alisha, atau dikenal dengan Mia, dia adalah seorang gadis yang berparas polos, jarang tersentuh dunia luar, hidupnya selalu berada dalam bayang bayang. Walau rumahnya besar, kolamnya luas, les cello diantar jemput dengan supir, tapi itu bukan apa-apa, dia hanya seorang anak orang kaya yang hidup tanpa cinta. Lalu, semuanya berubah ketika ia jatuh cinta pada seorang pria, benar benar seperti fiksi, cinta pada pandangan pertama.
Pria itu hidup di dalam rumah susun bertahun tahun lamanya. Mencari inspirasi untuk menulis. Mia memiliki ambisi tinggi untuk pergi dari bayang bayang, dan mengikuti bayangan sendiri, masuk kedalam rumah susun, dia merasa sangat asing dengan lingkungannya, sampai dirinya berinteraksi dengan cinta fiksinya, pria itu Bari.
Ia Tinggal dikamar persis samping kamarnya, namun tiap malam, tampak sudah ada kekasih yang menunggunya pulang. Orangnya pintar, cerdas, kutu buku, keras kepala, pasangan hidup, Renta. Begitulah sekiranya deskripsi dari Bari tentangnya.
Bari ternyata seorang penulis, kalau sudah mulai menulis, seperti autis, begitulah sekiranya deskripsi dari Renta tentangnya. Bari menulis semua yang telah dia eksplorasi di rumah susun, namun belum menemukan ending daripada cerita-ceritanya . “Di fiksi ada ending, di realita, ya, goes on(hidup terus berjalan)”
Mia benar benar berambisi agar Bari dapat menyelesaikan cerita-ceritanya, setelah diajak bereksplorasi dengan Bari, dan setelah membaca naskah tulisannya, Mia dengan mudah mengerti pandangan Bari tentang sekitar, dan dia berambisi dengan misi yang diluar ekspektasi.
“Saya bukan psikopat Bar, saya sayang kamu”
Paras ‘polos’ yg melakukan apa saja, bahkan tak terduga, demi ingin mengetahui akhir dari cerita, dan kasih sayang cinta.
“Bagaimana cerita ini akan berakhir Bar? Semua kejadian ada tujuannya.”