*I gave God a chance to kill me.
He didn’t do it, so he’s pleased with me*
Kalau dunia tidak bisa dijelaskan, rasanya seperti tanah runtuh di bawah kaki kita. Kita kehilangan pijakan. Karena itu, manusia selalu butuh penjelasan. Kita ingin tahu siapa yang salah, siapa pelakunya, apa motifnya supaya dunia tetap terasa logis.
Di masyarakat yang sangat menekan dan mengontrol, kebutuhan akan “ketertiban” bisa berubah jadi obsesi. Semua harus rapi. Semua harus patuh. Anak-anak dihukum, moral diawasi. Sekilas terlihat demi kebaikan, demi mencegah kejahatan.
Tapi tekanan yang terus-menerus jarang benar-benar menghilangkan kekerasan. Kadang justru menumbuhkannya.
Ketika emosi ditekan, rasa takut dipelihara, dan kebebasan dibatasi, yang tumbuh bukan kedamaian, melainkan kebencian yang diam-diam mengendap. Kekerasan tidak selalu datang dari satu mastermind yang merancang segalanya. Ia bisa tumbuh pelan-pelan dari sistem yang membuat orang merasa kecil, terhina, atau tidak pernah cukup baik.
Dan ketika hal buruk terjadi, kita ingin satu nama untuk disalahkan. Rasanya lebih lega kalau ada “pelaku.” Kalau tidak ada, berarti masalahnya lebih dalam. Karena bisa jadi yang berbahaya bukan hanya individunya, melainkan sistem yang membentuknya.
Padahal hidup memang tidak selalu rapi. Kadang hal buruk terjadi bukan karena ada dalang besar di baliknya. Bukan karena skenario jenius. Tapi karena manusia rapuh, sistem bisa cacat, dan dunia memang tidak selalu masuk akal.
Mungkin yang paling mengganggu bukan karena ada sesuatu yang tersembunyi, melainkan karena dunia ini memang tidak selalu bisa kita pahami sepenuhnya.