Waktu nonton Landscape in the Mist, awalnya kupikir ini cuma tentang dua anak yang kabur buat cari ayah mereka di Jerman. Tapi ternyata film ini jauh lebih besar dari itu.
Perjalanan mereka pelan-pelan terasa seperti gambaran hidup itu sendiri. Kita semua berjalan, terus bergerak, mencari sesuatu yang bahkan kita sendiri belum tentu yakin itu ada. Waktu bergerak tanpa menunggu. Kota-kota, orang-orang asing, rasa sakit, kebahagiaan kecil semuanya datang dan pergi begitu cepat.
Ada satu dialog dari Orestis. Dia melihat anak-anak itu dan bilang bahwa mereka seperti tidak peduli waktu berlalu, padahal sebenarnya sedang terburu-buru. Seperti tidak menuju ke mana-mana, tapi sebenarnya menuju sesuatu. Lalu dia membandingkan dirinya dengan siput yang merayap ke dalam ketiadaan. Dulu dia pikir dia tahu arah hidupnya. Sekarang tidak lagi.
Dan itu rasanya dekat banget. Kita sadar waktu terus berjalan, tapi tetap hidup seakan-akan punya banyak waktu. Kita mencari hal yang berbeda-beda, tapi ujungnya sama, rasa utuh, rasa cukup, semacam jawaban yang terasa dekat tapi sulit digapai.
Ada satu momen kecil saat mereka naik motor menuju pantai. Setelah melalui sesuatu yang menyakitkan, ketika ditanya apakah dia takut, Voula menjawab, “Tidak. Aku hanya tidak ingin ini berakhir.” Setelah semua yang terjadi, kebahagiaan kecil itu terasa seperti segalanya.
Film ini tidak memberiku jawaban. Mungkin pada akhirnya, semua yang kita cari memang hanya sebuah lanskap dalam kabut.
Waktu nonton Landscape in the Mist, awalnya kupikir ini cuma tentang dua anak yang kabur buat cari ayah mereka di Jerman. Tapi ternyata film ini jauh lebih besar dari itu.
Perjalanan mereka pelan-pelan terasa seperti gambaran hidup itu sendiri. Kita semua berjalan, terus bergerak, mencari sesuatu yang bahkan kita sendiri belum tentu yakin itu ada. Waktu bergerak tanpa menunggu. Kota-kota, orang-orang asing, rasa sakit, kebahagiaan kecil semuanya datang dan pergi begitu cepat.
Ada satu dialog dari Orestis. Dia melihat anak-anak itu dan bilang bahwa mereka seperti tidak peduli waktu berlalu, padahal sebenarnya sedang terburu-buru. Seperti tidak menuju ke mana-mana, tapi sebenarnya menuju sesuatu. Lalu dia membandingkan dirinya dengan siput yang merayap ke dalam ketiadaan. Dulu dia pikir dia tahu arah hidupnya. Sekarang tidak lagi.
Dan itu rasanya dekat banget. Kita sadar waktu terus berjalan, tapi tetap hidup seakan-akan punya banyak waktu. Kita mencari hal yang berbeda-beda, tapi ujungnya sama, rasa utuh, rasa cukup, semacam jawaban yang terasa dekat tapi sulit digapai.
Ada satu momen kecil saat mereka naik motor menuju pantai. Setelah melalui sesuatu yang menyakitkan, ketika ditanya apakah dia takut, Voula menjawab, “Tidak. Aku hanya tidak ingin ini berakhir.” Setelah semua yang terjadi, kebahagiaan kecil itu terasa seperti segalanya.
Film ini tidak memberiku jawaban. Mungkin pada akhirnya, semua yang kita cari memang hanya sebuah lanskap dalam kabut.