Film ini diadaptasi dari cerpen “Sleeping at the Foot of the Mountain” karya Hammour Ziada, disutradarai sama Amjad Abu Alala dan surprisingly, ini debut film panjangnya. Untuk ukuran film pertama, hasilnya keren banget. Visualnya indah, ceritanya indah, maknanya dalem, dan aktingnya gokil itu sih kesan pertama aku pas nonton film ini.
Ceritanya tentang Muzamil, anak yang waktu bayi “diramal” sama seorang sufi bakal meninggal di umur 20 tahun. Padahal, si sufi sebenernya nggak nyebut angka pastinya, cuma ada orang yang nyambungin kalimatnya jadi “20”. Sejak itu, hidup Muzamil selalu dibayangin kematian. Ibunya jadi super protektif, ayahnya malah pergi dari rumah.
Dia tumbuh jadi remaja alim yang hafal Qur’an, tapi nggak pernah ngerasain bebas kayak remaja lainnya. Sampai suatu hari dia ketemu Suleiman, orang yang bikin dia sadar kalau dunia di luar sana itu luas dan hidup nggak cuma soal nunggu mati.
Menurutku, ini bukan cuma soal dia bakal mati atau enggak di umur 20. Pesan utamanya lebih ke:
kematian itu pasti, tapi sayang banget kalau kita udah berhenti hidup sebelum waktunya. Bikin aku mikir juga, *“Kalau kita tahu kapan mati, masih mau nggak sih kita bener-bener hidup?” ***
**
Akting Mustafa Shehata sebagai Muzamil top banget. Dia bisa nunjukin rasa takut, cemas, dan rasa ingin tahu yang selama ini dia pendam. Sepanjang film, dia kayak orang yang udah setengah mati sebelum waktunya nggak berani nyoba apa-apa karena takut waktunya tinggal dikit.
Buat yang suka film kayak Taste of Cherry Kiarostami, ini film wajib ditonton. Tenang, puitis, tapi dalem banget.
Film ini diadaptasi dari cerpen “Sleeping at the Foot of the Mountain” karya Hammour Ziada, disutradarai sama Amjad Abu Alala dan surprisingly, ini debut film panjangnya. Untuk ukuran film pertama, hasilnya keren banget. Visualnya indah, ceritanya indah, maknanya dalem, dan aktingnya gokil itu sih kesan pertama aku pas nonton film ini.
Ceritanya tentang Muzamil, anak yang waktu bayi “diramal” sama seorang sufi bakal meninggal di umur 20 tahun. Padahal, si sufi sebenernya nggak nyebut angka pastinya, cuma ada orang yang nyambungin kalimatnya jadi “20”. Sejak itu, hidup Muzamil selalu dibayangin kematian. Ibunya jadi super protektif, ayahnya malah pergi dari rumah.
Dia tumbuh jadi remaja alim yang hafal Qur’an, tapi nggak pernah ngerasain bebas kayak remaja lainnya. Sampai suatu hari dia ketemu Suleiman, orang yang bikin dia sadar kalau dunia di luar sana itu luas dan hidup nggak cuma soal nunggu mati.
Menurutku, ini bukan cuma soal dia bakal mati atau enggak di umur 20. Pesan utamanya lebih ke:
kematian itu pasti, tapi sayang banget kalau kita udah berhenti hidup sebelum waktunya. Bikin aku mikir juga, *“Kalau kita tahu kapan mati, masih mau nggak sih kita bener-bener hidup?” ***
**
Akting Mustafa Shehata sebagai Muzamil top banget. Dia bisa nunjukin rasa takut, cemas, dan rasa ingin tahu yang selama ini dia pendam. Sepanjang film, dia kayak orang yang udah setengah mati sebelum waktunya nggak berani nyoba apa-apa karena takut waktunya tinggal dikit.
Buat yang suka film kayak Taste of Cherry Kiarostami, ini film wajib ditonton. Tenang, puitis, tapi dalem banget.