
You Will Die at Twenty
2020·Drama·1h 43m
7.0
★




Shortly after Muzamil was born, the village's holy man predicts that he will die at age 20. Muzamil's father can't stand the curse and leaves home. Sakina raises her son as a single mother, overly protective. One day, Muzamil turns 19.
Directed by Amjad Abu Alala
islam
sudan
coming of age
curse
religion
north africa
mother son relationship
coran

Trailer

IMDB
N/A
Where to Watch



Cast

Mustafa Shehata
Muzamil

Mahmoud Alsarraj
Sulaiman

Islam Mubark
Sakina
Crew

Amjad Abu Alala
Director

Amjad Abu Alala
Writer

Amine Bouhafa
Original Music Composer

Heba Othman
Editor

Sébastien Goepfert
Director of Photography

Mohamed Alomd'a
Co-Producer

Ingrid Lill Høgtun
Producer

Amjad Abu Alala
Co-Producer
Popular Reviews
36 reviews
umbrElla
8.0★ · 05/07/26

Our destiny can never be written. Neither by God nor by ourselves. It is up to us to write our own stories and create paths for ourselves, instead of adhering to prophecy. Taking leaps of faith are important in life, but so is reason and rationality. Man can succumb himself to much folly in the name of blind faith.
Our destiny can never be written. Neither by God nor by ourselves. It is up to us to write our own stories and create paths for ourselves, instead of adhering to prophecy. Taking leaps of faith are important in life, but so is reason and rationality. Man can succumb himself to much folly in the name of blind faith.
Selahadin Zeynu
8.0★ · 01/08/26

Powerful movie that portrays how sadly the reality is.
Powerful movie that portrays how sadly the reality is.
Kenza
8.0★ · 08/21/25

Je met une review pcq après avoir lu les autres je me rend compte que y’a trop de debile qui ont rien compris au film et qui kiffe pcq pour eux ça diabolise la religion alors que grave pas ça montre juste les gens qui comprennent mal la religion et s’en serve pour opprimer les autres 💀
Je met une review pcq après avoir lu les autres je me rend compte que y’a trop de debile qui ont rien compris au film et qui kiffe pcq pour eux ça diabolise la religion alors que grave pas ça montre juste les gens qui comprennent mal la religion et s’en serve pour opprimer les autres 💀
MopudPRO
9.0★ · 08/10/25

Film ini diadaptasi dari cerpen “Sleeping at the Foot of the Mountain” karya Hammour Ziada, disutradarai sama Amjad Abu Alala dan surprisingly, ini debut film panjangnya. Untuk ukuran film pertama, hasilnya keren banget. Visualnya indah, ceritanya indah, maknanya dalem, dan aktingnya gokil itu sih kesan pertama aku pas nonton film ini.
Ceritanya tentang Muzamil, anak yang waktu bayi “diramal” sama seorang sufi bakal meninggal di umur 20 tahun. Padahal, si sufi sebenernya nggak nyebut angka pastinya, cuma ada orang yang nyambungin kalimatnya jadi “20”. Sejak itu, hidup Muzamil selalu dibayangin kematian. Ibunya jadi super protektif, ayahnya malah pergi dari rumah.
Dia tumbuh jadi remaja alim yang hafal Qur’an, tapi nggak pernah ngerasain bebas kayak remaja lainnya. Sampai suatu hari dia ketemu Suleiman, orang yang bikin dia sadar kalau dunia di luar sana itu luas dan hidup nggak cuma soal nunggu mati.
Menurutku, ini bukan cuma soal dia bakal mati atau enggak di umur 20. Pesan utamanya lebih ke:
kematian itu pasti, tapi sayang banget kalau kita udah berhenti hidup sebelum waktunya. Bikin aku mikir juga, *“Kalau kita tahu kapan mati, masih mau nggak sih kita bener-bener hidup?” ***
**
Akting Mustafa Shehata sebagai Muzamil top banget. Dia bisa nunjukin rasa takut, cemas, dan rasa ingin tahu yang selama ini dia pendam. Sepanjang film, dia kayak orang yang udah setengah mati sebelum waktunya nggak berani nyoba apa-apa karena takut waktunya tinggal dikit.
Buat yang suka film kayak Taste of Cherry Kiarostami, ini film wajib ditonton. Tenang, puitis, tapi dalem banget.
Ceritanya tentang Muzamil, anak yang waktu bayi “diramal” sama seorang sufi bakal meninggal di umur 20 tahun. Padahal, si sufi sebenernya nggak nyebut angka pastinya, cuma ada orang yang nyambungin kalimatnya jadi “20”. Sejak itu, hidup Muzamil selalu dibayangin kematian. Ibunya jadi super protektif, ayahnya malah pergi dari rumah.
Dia tumbuh jadi remaja alim yang hafal Qur’an, tapi nggak pernah ngerasain bebas kayak remaja lainnya. Sampai suatu hari dia ketemu Suleiman, orang yang bikin dia sadar kalau dunia di luar sana itu luas dan hidup nggak cuma soal nunggu mati.
Menurutku, ini bukan cuma soal dia bakal mati atau enggak di umur 20. Pesan utamanya lebih ke:
kematian itu pasti, tapi sayang banget kalau kita udah berhenti hidup sebelum waktunya. Bikin aku mikir juga, *“Kalau kita tahu kapan mati, masih mau nggak sih kita bener-bener hidup?” ***
**
Akting Mustafa Shehata sebagai Muzamil top banget. Dia bisa nunjukin rasa takut, cemas, dan rasa ingin tahu yang selama ini dia pendam. Sepanjang film, dia kayak orang yang udah setengah mati sebelum waktunya nggak berani nyoba apa-apa karena takut waktunya tinggal dikit.
Buat yang suka film kayak Taste of Cherry Kiarostami, ini film wajib ditonton. Tenang, puitis, tapi dalem banget.
Film ini diadaptasi dari cerpen “Sleeping at the Foot of the Mountain” karya Hammour Ziada, disutradarai sama Amjad Abu Alala dan surprisingly, ini debut film panjangnya. Untuk ukuran film pertama, hasilnya keren banget. Visualnya indah, ceritanya indah, maknanya dalem, dan aktingnya gokil itu sih kesan pertama aku pas nonton film ini.
Ceritanya tentang Muzamil, anak yang waktu bayi “diramal” sama seorang sufi bakal meninggal di umur 20 tahun. Padahal, si sufi sebenernya nggak nyebut angka pastinya, cuma ada orang yang nyambungin kalimatnya jadi “20”. Sejak itu, hidup Muzamil selalu dibayangin kematian. Ibunya jadi super protektif, ayahnya malah pergi dari rumah.
Dia tumbuh jadi remaja alim yang hafal Qur’an, tapi nggak pernah ngerasain bebas kayak remaja lainnya. Sampai suatu hari dia ketemu Suleiman, orang yang bikin dia sadar kalau dunia di luar sana itu luas dan hidup nggak cuma soal nunggu mati.
Menurutku, ini bukan cuma soal dia bakal mati atau enggak di umur 20. Pesan utamanya lebih ke:
kematian itu pasti, tapi sayang banget kalau kita udah berhenti hidup sebelum waktunya. Bikin aku mikir juga, *“Kalau kita tahu kapan mati, masih mau nggak sih kita bener-bener hidup?” ***
**
Akting Mustafa Shehata sebagai Muzamil top banget. Dia bisa nunjukin rasa takut, cemas, dan rasa ingin tahu yang selama ini dia pendam. Sepanjang film, dia kayak orang yang udah setengah mati sebelum waktunya nggak berani nyoba apa-apa karena takut waktunya tinggal dikit.
Buat yang suka film kayak Taste of Cherry Kiarostami, ini film wajib ditonton. Tenang, puitis, tapi dalem banget.
Ceritanya tentang Muzamil, anak yang waktu bayi “diramal” sama seorang sufi bakal meninggal di umur 20 tahun. Padahal, si sufi sebenernya nggak nyebut angka pastinya, cuma ada orang yang nyambungin kalimatnya jadi “20”. Sejak itu, hidup Muzamil selalu dibayangin kematian. Ibunya jadi super protektif, ayahnya malah pergi dari rumah.
Dia tumbuh jadi remaja alim yang hafal Qur’an, tapi nggak pernah ngerasain bebas kayak remaja lainnya. Sampai suatu hari dia ketemu Suleiman, orang yang bikin dia sadar kalau dunia di luar sana itu luas dan hidup nggak cuma soal nunggu mati.
Menurutku, ini bukan cuma soal dia bakal mati atau enggak di umur 20. Pesan utamanya lebih ke:
kematian itu pasti, tapi sayang banget kalau kita udah berhenti hidup sebelum waktunya. Bikin aku mikir juga, *“Kalau kita tahu kapan mati, masih mau nggak sih kita bener-bener hidup?” ***
**
Akting Mustafa Shehata sebagai Muzamil top banget. Dia bisa nunjukin rasa takut, cemas, dan rasa ingin tahu yang selama ini dia pendam. Sepanjang film, dia kayak orang yang udah setengah mati sebelum waktunya nggak berani nyoba apa-apa karena takut waktunya tinggal dikit.
Buat yang suka film kayak Taste of Cherry Kiarostami, ini film wajib ditonton. Tenang, puitis, tapi dalem banget.
believeinsm
5.0★ · 07/24/25

الفكرة والاخراج جميلين ، لكن مافي طرح مباشر للمشكلة ولا توصل لحل ، حرفيًا ساعة ونص أحداث متوقعة لأبعد حد ونمطية ، خيب أملي
الفكرة والاخراج جميلين ، لكن مافي طرح مباشر للمشكلة ولا توصل لحل ، حرفيًا ساعة ونص أحداث متوقعة لأبعد حد ونمطية ، خيب أملي