

2004·Drama·1h 41m
7.1
★




Akbar, 18, has been held in a rehabilitation centre for committing murder at the age of sixteen. Now, Akbar is transferred to prison to await the day of his execution. A’la, a friend of Akbar, tries desperately to gain the consent of Akbar’s plaintiff so as to stop the execution.
Directed by Asghar Farhadi

Trailer

IMDB
N/A
Where to Watch



Cast

Taraneh Alidoosti
Firoozeh

Babak Ansari
A'la

Faramarz Gharibian
Abolqasem Rahmati

Ahoo Kheradmand
Abolqasem's Wife

Hossein Farzi-Zadeh
Akbar

Farhad Ghaemian
Crew

Asghar Farhadi
Director

Asghar Farhadi
Writer
Popular Reviews
20 reviews
Mahira
8.0★ · 06/24/26

Безумно интересный сюжет, и динамика между персонажами прям очень хорошо передалась через экран. Единственное мне не понравилась концовка, не очень я люблю открытые концовки а там и намека нет. И столько открытых вопросов ;(
Безумно интересный сюжет, и динамика между персонажами прям очень хорошо передалась через экран. Единственное мне не понравилась концовка, не очень я люблю открытые концовки а там и намека нет. И столько открытых вопросов ;(
Noah Guiheneuf
7.0★ · 03/24/26

Bah putain j’imagine pas la dette que son ami va avoir envers lui
Bah putain j’imagine pas la dette que son ami va avoir envers lui
Pania
8.0★ · 07/11/25

امروز اعلا بودم
عاشق،بلاتکلیف،بچه
عاشق،بلاتکلیف،بچه
امروز اعلا بودم
عاشق،بلاتکلیف،بچه
عاشق،بلاتکلیف،بچه
sare
10.0★ · 04/11/25

kendini BAYA izlettiriyo (Firoozeh) bi sure duvarı izleyerek sonunun guzel bittigini hayal edicem cıglık atıyorum aglıyorum paranın gozu kor olsun
kendini BAYA izlettiriyo (Firoozeh) bi sure duvarı izleyerek sonunun guzel bittigini hayal edicem cıglık atıyorum aglıyorum paranın gozu kor olsun
MopudPRO
8.0★ · 01/17/25

Beautiful City nggak maksa kita untuk pilih sisi mana, kita diajak ngeliat konflik dari berbagai sudut pandang. Pacing-nya agak lambat, tapi itu justru bikin kita lebih bisa nyelam ke tiap dialog dan perasaan karakter. Farhadi emang jago banget bikin cerita yang fokus ke manusia dan moralitas. Kalau dibandingin sama A Separation dan About Elly, emosi di Beautiful City memang nggak se-intens dua film itu. Emosinya lebih terpendam, nggak langsung meledak. Kita bisa lihat itu di adegan-adegan seperti waktu A’la dan Firoozeh berusaha cari jalan keluar dari dilema mereka, yang lebih banyak diem dan nahan perasaan daripada teriak-teriak emosional.
Salah satu adegan yang berkesan adalah waktu istrinya Abolqasem dimarahin. Dialog di sini penuh ketegangan dan emosi yang terkendali. Suaminya yang marah menunjukkan sisi patriarkal yang masih kental, sementara istrinya berusaha mempertahankan martabatnya meskipun dalam posisi yang sangat tertekan. Dialog mereka nggak cuma ngungkapkan perasaan pribadi, tapi juga kritik sosial tentang peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat.
Kekuatan adegan ini ada di cara Farhadi bikin ketegangan tanpa perlu meledak-ledak. Emosi dan perasaan karakter keluar lewat kata-kata yang simpel, tapi cukup buat nunjukin ketidakadilan dan penderitaan yang dialami si istri. Menurutku, ini salah satu bukti kejeniusan Farhadi dalam nulis dialog yang penuh makna.
Salah satu adegan yang berkesan adalah waktu istrinya Abolqasem dimarahin. Dialog di sini penuh ketegangan dan emosi yang terkendali. Suaminya yang marah menunjukkan sisi patriarkal yang masih kental, sementara istrinya berusaha mempertahankan martabatnya meskipun dalam posisi yang sangat tertekan. Dialog mereka nggak cuma ngungkapkan perasaan pribadi, tapi juga kritik sosial tentang peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat.
Kekuatan adegan ini ada di cara Farhadi bikin ketegangan tanpa perlu meledak-ledak. Emosi dan perasaan karakter keluar lewat kata-kata yang simpel, tapi cukup buat nunjukin ketidakadilan dan penderitaan yang dialami si istri. Menurutku, ini salah satu bukti kejeniusan Farhadi dalam nulis dialog yang penuh makna.
Beautiful City nggak maksa kita untuk pilih sisi mana, kita diajak ngeliat konflik dari berbagai sudut pandang. Pacing-nya agak lambat, tapi itu justru bikin kita lebih bisa nyelam ke tiap dialog dan perasaan karakter. Farhadi emang jago banget bikin cerita yang fokus ke manusia dan moralitas. Kalau dibandingin sama A Separation dan About Elly, emosi di Beautiful City memang nggak se-intens dua film itu. Emosinya lebih terpendam, nggak langsung meledak. Kita bisa lihat itu di adegan-adegan seperti waktu A’la dan Firoozeh berusaha cari jalan keluar dari dilema mereka, yang lebih banyak diem dan nahan perasaan daripada teriak-teriak emosional.
Salah satu adegan yang berkesan adalah waktu istrinya Abolqasem dimarahin. Dialog di sini penuh ketegangan dan emosi yang terkendali. Suaminya yang marah menunjukkan sisi patriarkal yang masih kental, sementara istrinya berusaha mempertahankan martabatnya meskipun dalam posisi yang sangat tertekan. Dialog mereka nggak cuma ngungkapkan perasaan pribadi, tapi juga kritik sosial tentang peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat.
Kekuatan adegan ini ada di cara Farhadi bikin ketegangan tanpa perlu meledak-ledak. Emosi dan perasaan karakter keluar lewat kata-kata yang simpel, tapi cukup buat nunjukin ketidakadilan dan penderitaan yang dialami si istri. Menurutku, ini salah satu bukti kejeniusan Farhadi dalam nulis dialog yang penuh makna.
Salah satu adegan yang berkesan adalah waktu istrinya Abolqasem dimarahin. Dialog di sini penuh ketegangan dan emosi yang terkendali. Suaminya yang marah menunjukkan sisi patriarkal yang masih kental, sementara istrinya berusaha mempertahankan martabatnya meskipun dalam posisi yang sangat tertekan. Dialog mereka nggak cuma ngungkapkan perasaan pribadi, tapi juga kritik sosial tentang peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat.
Kekuatan adegan ini ada di cara Farhadi bikin ketegangan tanpa perlu meledak-ledak. Emosi dan perasaan karakter keluar lewat kata-kata yang simpel, tapi cukup buat nunjukin ketidakadilan dan penderitaan yang dialami si istri. Menurutku, ini salah satu bukti kejeniusan Farhadi dalam nulis dialog yang penuh makna.