**Nonton nih film sebelum dilarang buat ditonton!! #5
**
Bupati memperlakukan rakyatnya sebagai budak, lebih dari yang diperbolehkan secara hukum.
Apakah mereka harus kelaparan seperti itu?, Tahukah kamu apa yang mereka makan? Pasir!
Film yang saya tonton kali ini berjudul Max Havelaar yang disutradarai Fons Radenmakers dan dibintangi oleh Peter Faber sebagai tokoh utama dalam film ini. Bergenre drama dan sejarah film ini berasal dari sebuah novel terkenal karya Eduard Douwes Dekker atau kerap dikenal dengan sebutan Multatuli.
Film ini menceritakan tentang seorang Max Havelaar yang diangkat menjadi seorang asisten residen di daerah Lebak, Banten yang dikenal sebagai daerah yang miskin. Ia pun mencari masalah apa yang membuat daerah tersebut jatuh miskin. Ternyata setelah ditelusuri di daerah itu ada seorang bupati yang berbuat semena-mena dengan rakyatnya dan korupsi. Rakyatnya dipaksa untuk bekerja tanpa dibayar padahal saat itu
Government membayar gaji rakyat pribumi yang bekerja. Havelaar pun sampai menyuruh rakyat disana mengaku kalau mereka itu sedang ditindas namun mereka takut untuk mengakuinya karna memang kekuasaan sang bupati sangat besar. Al hasil karena Havelaar dianggap membahayakan jabatan sang bupati, bupati lalu bersekongkol dengan residen untuk memutasi Havelaar dari tembah tersebut. Akhirnya Havelaar pun merasa sangat kecewa karna ia dimutasi menuju ke ngawi. Dan di akhir film ia sangat menyesal telah dan marah kepada
Government. Saya jadi teringat dengan salah satu buku yang saya baca yang mengatakan bahwa rakyat pribumi dahulu lebih patuh dan hormat kepada orang-orang di kerajaan/keraton dibandingkan dengan orang-orang Belanda. Maka dari itu pemerintah Belanda menjadikan orang-orang keraton sebagai bupati agar rakyat-rakyat pribumi juga dapat patuh dan hormat dengan pemerintahan Belanda.
Karakter Max Havelaar disini menggambarkan bahwa ia adalah sosok yang adil tanpa memandang status tertentu. Ia tak peduli walaupun itu rakyat pribumi jika memang mereka tak mendapatkan keadilan maka ia juga harus memperjuangkannya.
Menurut saya film ini secara plot biasa saja karna banyak sekali hal-hal yang dicut dari cerita asli pada novelnya. Cinematographynya juga tidak terlalu bagus apalagi scoringnya yang menurut saya kurang.
Untuk acting dari karakternya lumayan oke namun kurang menjiwai dan bagi saya hanya Peter Faber lah yang memang paling mendingan actingnya disini.
**Dari film ini kita tahu bahwa kebiasaan untuk merampas hak orang lain ataupun merampas keadilan orang lain itu sudah tertanam sejak dulu di Indonesia. Tidak heran jika di jaman sekarang banyak sekali kasus-kasus seperti korupsi ataupun ketidakadilan yang semakin merajalela, karena memang itu sudah karakteristik orang Indonesia sejak dulu.
**
Karna memang bagi saya pancasila sampai saat ini belum terpenuhi terutama pancasila ke 5 yang berbunyi " Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia ".**
**
**
**