ARGHHHH BUSET KOK GW BARU TAU ADA FILM GINIAN DI NETFLIX
selalu ada 2 reaksi kalo ada film ginian
1. fokus pada narasi yang mau dibawakan film ini, tentang kesepian, yang dimana kesepian itu bisa membuat kita mendobrak norma yang sudah dibangun diri kita sendiri atau masyarakat, lalu bahkan obrolan datar antara Laras dan ibunya terasa begitu menohok, apalagi pas ibunya nanya ke Laras "Lalu persamaannya apa?"
Lalu Laras membalas "Kita kan punya 2 anak Bu", boom what a conversation dude"
Jujur, pas awal muncul si Laras, gw kira dia anak baik baik, jilbab rapi gitu, tapi itu di hancurkan oleh scene dia merokok, di ujung kamera, terasa sendiri dia disudutkan oleh masyarakat dan ibunya bahkan, dari perbincangan mereka berdua.
Lalu obrolan Ibunya Laras dan pembantunya juga unik "emangnya orang tuamu gada yang ngurusin apa?", "terus yang ngurusin aku siapa?", ini menunjukkan ketergantungan dari si Ibunya Laras, dan norma kehidupan masyarakat yang kadang bodoamat sama orang tuanya, ada pembantu kok yang ngurus wkwkwkwk
Dan adegan kemunculan Bimo, juga suatu hal yang membuat film ini menjadi film yang membuat gelisah, ya tenang, bertanya-tanya sepanjang film, dominasi suara dari Bimo (Ringgo Agus Rahman), itu bener bener menghancurkan struktur film minim ekspresi soal kesepian ini, dari awal omongan dengan baku dan datar, kamera minim pergerakan, tiba tiba muncul dominasi karakter Bimo, sangat sangat ARGGH dan tentu klimaksnya, keponakan dari Bimo, dari awal saya udah curiga, cuma berusaha buat "ah perasaan gw doang", karena entah kenapa, peletakan karakter Abi ini ditambah dengan pengucapan kata baku dan ekspresi datar tentunya, jadi kaya ambigu dan aneh, terus adegan pas dia mandi juga, kayaknya ga bakal dimasukin kalo ga bahas tentang sesuatu yang intim, dan bener aja😞😓😵🫤, dan menurut gw, adegan mereka ......, itu cuma adegan menuju klimaks yang jelas aja sih, biar penontonnya ga kaget tiba tiba langsung, ini bener bener film yang ga dikasih napas, dengan tata kamera yang sempit, jadi kaya sesak napas, terus juga dibuat gelisah dengan "diamnya" mereka, kacau sih ni film, ya seperti yang sudah saya katakan, kesepian membuat terdobraknya norma yang sudah dibuat oleh masyarakat, mana di akhir, si Abi malah jalan sama temennya lagi
2. film asu
ARGHHHH BUSET KOK GW BARU TAU ADA FILM GINIAN DI NETFLIX
selalu ada 2 reaksi kalo ada film ginian
1. fokus pada narasi yang mau dibawakan film ini, tentang kesepian, yang dimana kesepian itu bisa membuat kita mendobrak norma yang sudah dibangun diri kita sendiri atau masyarakat, lalu bahkan obrolan datar antara Laras dan ibunya terasa begitu menohok, apalagi pas ibunya nanya ke Laras "Lalu persamaannya apa?"
Lalu Laras membalas "Kita kan punya 2 anak Bu", boom what a conversation dude"
Jujur, pas awal muncul si Laras, gw kira dia anak baik baik, jilbab rapi gitu, tapi itu di hancurkan oleh scene dia merokok, di ujung kamera, terasa sendiri dia disudutkan oleh masyarakat dan ibunya bahkan, dari perbincangan mereka berdua.
Lalu obrolan Ibunya Laras dan pembantunya juga unik "emangnya orang tuamu gada yang ngurusin apa?", "terus yang ngurusin aku siapa?", ini menunjukkan ketergantungan dari si Ibunya Laras, dan norma kehidupan masyarakat yang kadang bodoamat sama orang tuanya, ada pembantu kok yang ngurus wkwkwkwk
Dan adegan kemunculan Bimo, juga suatu hal yang membuat film ini menjadi film yang membuat gelisah, ya tenang, bertanya-tanya sepanjang film, dominasi suara dari Bimo (Ringgo Agus Rahman), itu bener bener menghancurkan struktur film minim ekspresi soal kesepian ini, dari awal omongan dengan baku dan datar, kamera minim pergerakan, tiba tiba muncul dominasi karakter Bimo, sangat sangat ARGGH dan tentu klimaksnya, keponakan dari Bimo, dari awal saya udah curiga, cuma berusaha buat "ah perasaan gw doang", karena entah kenapa, peletakan karakter Abi ini ditambah dengan pengucapan kata baku dan ekspresi datar tentunya, jadi kaya ambigu dan aneh, terus adegan pas dia mandi juga, kayaknya ga bakal dimasukin kalo ga bahas tentang sesuatu yang intim, dan bener aja😞😓😵🫤, dan menurut gw, adegan mereka ......, itu cuma adegan menuju klimaks yang jelas aja sih, biar penontonnya ga kaget tiba tiba langsung, ini bener bener film yang ga dikasih napas, dengan tata kamera yang sempit, jadi kaya sesak napas, terus juga dibuat gelisah dengan "diamnya" mereka, kacau sih ni film, ya seperti yang sudah saya katakan, kesepian membuat terdobraknya norma yang sudah dibuat oleh masyarakat, mana di akhir, si Abi malah jalan sama temennya lagi
2. film asu